Investasi Melonjak, Indonesia Cari Mitra Strategis Hulu Migas di Luar Negeri
·waktu baca 3 menit

Pemerintah menilai 2025 sebagai momentum terbaik dalam satu dekade terakhir untuk mendorong investasi hulu migas, dengan realisasi investasi mencapai USD 7,19 miliar pada semester I 2025 dan proyeksi akhir tahun sebesar USD15,9 miliar-tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Di tengah tren positif ini, Indonesia aktif mencari mitra strategis global melalui partisipasi dalam Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2025.
Pertamina EP menjadi salah satu bagian penting dari delegasi resmi Indonesia yang dikoordinasikan oleh SKK Migas dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). ADIPEC 2025, yang berlangsung pada 3-6 November 2025 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menjadi panggung strategis bagi Indonesia untuk memperkenalkan arah baru pembangunan energi nasional.
Tahun ini, Indonesia membawa tema “Potentials to Discover, Partners to Deliver”, yang menegaskan ambisi menuju kemandirian energi melalui peningkatan investasi, inovasi teknologi, dan kemitraan lintas negara. Indonesia menampilkan diri sebagai mitra energi global yang kompetitif, dengan fokus pada ketahanan energi, alih teknologi, dan penguatan industri penunjang hulu migas.
Pertamina EP mengirimkan lima personel untuk menjadi pembicara dalam sesi Technical Conference-forum teknis yang diperhitungkan di tingkat global. Mereka adalah Ginanjar Puji Rahayu, Fariz Adriansyah Putra, Saifudin Zuhri, Gondo Irawan, dan Sakti Parsulian, yang mempresentasikan paper “Idle Well Utilization as Downhole Separation System to Improve Fuel Gas Quality: A Case Study in Jatibarang Field, Indonesia.”
Selain itu, perwakilan PHE ONWJ, Mohammad Hafez, juga menyampaikan inovasi peningkatan perolehan minyak melalui aplikasi flow control device di reservoir kompleks lepas pantai Jawa Barat.
“Kehadiran Pertamina EP sebagai anak perusahaan Pertamina Hulu Energi (PHE) dan Pertamina (Persero) di ADIPEC 2025 sejalan dengan komitmen perusahaan mendukung kebijakan pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Manager Communication Relations & CID, Pinto Budi Bowo Laksono, dalam keterangan resminya, Kamis (6/11).
Sementara itu, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menegaskan kemandirian energi merupakan pilar penting kedaulatan nasional dan bahwa kerja sama internasional harus memberikan manfaat nyata bagi Indonesia.
Dalam RPJMN 2025–2029, pemerintah menargetkan peningkatan produksi nasional sebesar 31 persen untuk minyak dan 51 persen untuk gas pada 2029. Target ini diperkuat oleh reformasi fiskal, percepatan perizinan, dan eksplorasi agresif di wilayah frontier.
Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Eksplorasi dan Peningkatan Produksi Migas, Nanang Abdul Manaf, menambahkan potensi besar Indonesia membutuhkan kemitraan global yang membawa teknologi dan pendanaan. “Indonesia memiliki action plan yang jelas untuk memperbaiki iklim investasi melalui insentif, stabilitas, dan kepastian kebijakan,” ujarnya dalam pembukaan Paviliun Indonesia yang turut diresmikan perwakilan KBRI Abu Dhabi.
Delegasi Indonesia di ADIPEC 2025 terdiri atas SKK Migas, Kementerian ESDM, BPMA, delapan KKKS termasuk Pertamina EP, dan lima perusahaan dalam negeri. Kehadiran ini mencerminkan kesatuan visi nasional untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam industri energi global.
