Investasi Reksa Dana UOBAM Kini Bisa di Pluang-grow, Harga Mulai Rp 15 Ribu

11 November 2021 19:12
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi investasi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi investasi. Foto: Shutter Stock
Investasi reksa dana pendapatan tetap PT UOB Asset Management Indonesia (UOBAM Indonesia) kini bisa dibeli di aplikasi Pluang-grow. Harganya mulai Rp 15.000.
Produk reksa dana pendapatan tetap yang ditawarkan UOBM di Pluang-grow bernama UOBAM Dana Membangun Negeri (UDARI) yang berfokus pada obligasi pemerintah Indonesia dan obligasi milik BUMN.
Head of Financial Education Pluang-grow, Christopher Andre Benas, mengatakan industri reksa dana di Indonesia memiliki potensi besar mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia.
"Untuk menyikapi potensi pasar ini, Pluang-grow berupaya memberikan solusi reksa dana digital yang mudah diakses oleh investor domestik. Kerja sama dengan UOBAM Indonesia untuk menyediakan UDARI pada aplikasi Pluang-grow merupakan bukti dari komitmen kami," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (11/11).
Direktur dan Chief Marketing Officer UOBAM Indonesia, Alvin Jufitrick, mengatakan, UDARI memberikan investasi pada waktu yang tepat bagi investor mengingat adanya fokus yang semakin besar pada pembiayaan pemerintah yang digunakan untuk membangun kembali perekonomian Indonesia di tengah pandemi COVID-19.
Pegawai Kantor Cabang PT Bank Syariah Indonesia (kanan) menjelaskan surat berharga syariah negara ritel atau Sukuk Ritel SR014, Selasa (16/3). Foto: Bank Syariah Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Pegawai Kantor Cabang PT Bank Syariah Indonesia (kanan) menjelaskan surat berharga syariah negara ritel atau Sukuk Ritel SR014, Selasa (16/3). Foto: Bank Syariah Indonesia
"Melalui kerja sama dengan Pluang-grow ini, UOBAM Indonesia berupaya memberikan keuntungan dengan tujuan, menghasilkan pengembalian yang sehat bagi investor, sekaligus berkontribusi pada upaya pembangunan bangsa Indonesia," katanya.
UOBAM Indonesia memiliki pandangan positif terhadap obligasi Indonesia karena imbal hasil riil obligasi domestik lebih menarik dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.
Selain itu, Skema Berbagi Beban (SKB III), skema bagi hasil di mana Bank Indonesia membeli obligasi pemerintah untuk mendanai peningkatan pengeluaran untuk menghadapi pandemi COVID-19, diharapkan dapat mengurangi kekhawatiran terhadap risiko pasokan pada obligasi negara.
Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo, yang juga hadir dalam acara ini mengatakan APBN sebagai instrumen penting di masa pandemi terus dialokasikan untuk menangani pandemi dan mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional.
Stafsus Sri Mulyani, Yustinus Prastowo. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Stafsus Sri Mulyani, Yustinus Prastowo. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Di saat penerimaan negara tertekan dan kebutuhan belanja meningkat, pembiayaan melalui utang menjadi opsi alternatif yang dapat diandalkan dalam membiayai defisit APBN. Pembiayaan dari utang diperlukan agar pemerintah mampu menjalankan fungsi penting dan mendesak dengan lebih cepat.
Namun demikian, pemerintah tetap memprioritaskan pembiayaan dalam negeri melalui berbagai skema, antaranya burden sharing dengan BI dan penerbitan obligasi pemerintah yang kini dikenal dengan ORI.
Ke depan, pemerintah terus berupaya mendorong berbagai program untuk mencapai kemandirian pembiayaan sekaligus sebagai alternatif investasi yang aman bagi masyarakat.
Meskipun terdampak pandemi, kini animo masyarakat terhadap investasi tetap tumbuh. Di Agustus 2020 lalu, SR013 berhasil meraih capaian penjualan terbesar mencapai Rp 25,67 triliun dan investor sebanyak 44.803 investor.
Ke depan, sangat penting untuk semakin meningkatkan literasi publik terhadap pengelolaan keuangan dan investasi dengan tujuan untuk menarik minat masyarakat terhadap investasi yang aman.
"Masa depan adalah milik mereka yang telah mempersiapkan hari ini, untuk itu, kontribusi generasi muda menjadi sangat penting menjadi agen investasi yang aman," ujarnya.