Kumparan Logo

Investasi Saham Jangan Pakai Emosi, Nanti Bisa Bikin Depresi!

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi investasi di pasar saham. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi investasi di pasar saham. Foto: Shutter Stock

Berinvestasi saham kini sedang tren. Influencer banyak yang pamer segala keuntungan dan merekomendasikan saham yang mereka beli, sehingga banyak yang tergiur untuk bermain di pasar modal.

Saham memang menggiurkan, dengan tawaran keuntungan yang cukup tinggi. Namun, jangan harap akan cuan jika investasi saham tidak dilakukan berdasarkan perhitungan.

Alih-alih untung, berinvestasi saham tanpa perhitungan dan hanya mengandalkan emosi malah akan menyebabkan depresi. Apalagi jika dana yang digunakan berasal dari hasil pinjaman.

Jangan Ngutang Atau Pakai Uang Arisan untuk Investasi Saham

Perencana Keuangan dari Advisor Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, menegaskan jangan sekali-sekali uang yang digunakan untuk membeli saham berasal dari hasil utang.

Menurut dia, uang untuk investasi saham harus dari dana nganggur. Artinya, uang untuk keperluan pokok seperti biaya sehari-hari, bayar sekolah anak, hingga transportasi harus tercukupi dulu. Apabila masih ada uang tersisa, maka dana tersebut yang bisa diinvestasikan.

"Jadi namanya berinvestasi itu memang uangnya (yang digunakan) uang nganggur, segala kebutuhan sudah terpenuhi dulu, sudah tercukupi dulu baru kemudian masih ada kelebihannya," ujar Andy.

Jika sudah ada dana nganggur, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah memilih saham yang akan dibeli. Lakukan analisa mendalam terkait emiten yang akan dipilih.

Khususnya bagi pemula, jangan sampai tergiur dengan saham yang tiba-tiba melejit. Bisa saja itu saham pompom atau yang biasa disebut dengan saham gorengan, yang harganya justru turun saat dibeli.

Makanya investasi saham tidak boleh impulsif. Bedah dulu kondisi emiten yang akan dipilih, dari mulai tren bisnisnya hingga kondisi keuangan perusahaan. Jadi, harus menggunakan logika dan perhitungan yang matang. Setelah itu dilakukan, silakan jatuhkan pilihan.

Namun jangan selalu berharap cuan. Yang namanya investasi itu pasti ada risikonya. Hal itu kadang yang tidak dipikirkan investor pemula karena ingin untung banyak dalam waktu singkat.

Ilustrasi bermain saham. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Investasi Saham Jangan Latah

Merencanakan keuangan dengan investasi di pasar modal tidak boleh asal ikut-ikutan mana yang ramai. Bisa saja saham yang sedang moncer merupakan hasil gorengan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, menyarankan bagi para pemula harus mempelajari dulu terkait investasi saham. Ia meminta masyarakat tidak latah.

“Pelajari analisa fundamentalnya, analisa teknikal sendiri ada sekian banyak parameter yang kita gunakan. Jadi jangan latah ketika orang ramai-ramai masuk ke situ mereka mendapatkan untung, dan kita akan mendapatkan untung terus, enggak seperti itu,” kata Andy saat dihubungi kumparan, Senin (18/1).

Apalagi, kata Andy, di pasar saham ada parameter yang harus dipahami juga seperti terkait bagaimana saham yang semula melejit bisa saja tiba-tiba turun. Kalau sudah terindikasi saham yang mau dibeli harganya turun, maka niat berinvestasi di situ harus dipikir lagi dari pada nantinya merugi.

Andy mengatakan investasi di saham juga tidak bisa langsung jor-joran menggelontorkan semua alokasi dana yang dimiliki. Bisa dimulai 30 persen atau 50 persen dari anggaran investasi yang dimiliki.

Lebih lanjut, Andy menuturkan dalam berinvestasi saham juga perlu diingat lagi terkait persentase risiko untung dan ruginya. Ia menganggap besar atau kecilnya modal yang dikeluarkan untuk investasi saham persentasenya sama saja.