Kumparan Logo

Investasi Uang Kripto Jangan Cuma Ikut-ikutan, Simak Tipsnya dari Safir Senduk

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mata uang kripto. Foto: REUTERS/Ann Wang
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mata uang kripto. Foto: REUTERS/Ann Wang

Melejitnya harga Bitcoin, Ethereum, dan jenis uang kripto lainnya sejak awal tahun membuat banyak orang beralih menginvestasikan uangnya ke instrumen ini. Sayangnya, tidak sedikit juga yang kehilangan aset mereka karena harga uang kripto yang terjun bebas saat ini.

Perencana Keuangan Safir Senduk mengatakan, investasi uang kripto jangan karena ikut-ikutan teman. Menurutnya, seseorang harus membuat perhitungan jelas kenapa memilih investasi ini.

Pertama, sebelum berinvestasi, pelajari dulu tentang uang kripto, mulai dari jenisnya hingga bagaimana fundamentalnya sebelum membeli. Pelajari juga tentang teknologi blockchain, prospek harga masing-masing uang kripto dan jumlah peredarannya.

Kedua, harus menggunakan uang nganggur atau uang dingin. Jangan sampai karena melihat teman cuan meraup untung dari uang kripto, harus merelakan dana darurat atau uang biaya sekolah anak.

"Jadi sisihkan dulu misalnya biaya untuk sekolah anak atau dana darurat sebelum berinvestasi di uang kripto," katanya dalam peluncuran layanan aset kripto di aplikasi Treasury secara daring, Kamis (3/6).

Ketiga, beli uang kripto ketika harganya lagi murah. Penentuan harga murah ini, menurut Safir, sebenarnya relatif. Karena tolok ukur murah bagi setiap orang berbeda. Karena itu, sebagai calon investor, mesti membuat riset misalnya murah dalam waktu 24 jam, seminggu, sebulan, atau seterusnya.

Keempat, jangan beli uang kripto dalam jumlah banyak sekaligus. Safir menyarankan untuk membelinya dikit demi sedikit untuk menghindari kerugian yang dalam saat harga kripto jatuh.

"Contohnya, punya uang nganggur Rp 10 juta. Taruh Rp 2 juta saja untuk beli di awal. Jadi saat harga jatuh, tidak rugi banyak. Kalau harga naik, ya kita syukuri. Tapi jangan beli di harga mahal," terangnya.

Kelima, hindari sindrom fear of missing out (fomo). Sindrom ini biasanya karena rasa takut melihat orang lain ramai-ramai berinvestasi di sebuah instrumen investasi, karenanya tidak mau ketinggalan. Sayangnya, karena cuma ikut-ikutan dan takut "ketinggalan kereta", membuat investor kehilangan banyak asetnya apalagi saat membelinya ketika harga tinggi.

"Jadi jangan ikut-ikutan alias FOMO. Jangan beli ketika harga tinggi, tapi beli ketika murah," kata Safir.