Kumparan Logo

Investor AS Mau Bangun Pabrik Baterai di Batam Siapkan Rp 9 T

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota Komisi XI DPR F-Golkar, Sarmuji. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Anggota Komisi XI DPR F-Golkar, Sarmuji. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

PT Tynergy Technology Group, perusahaan investor asal Amerika Serikat, bersama mitra lokal PT Wiraraja Bintang Persada siap menggelontorkan investasi tahap awal sebesar USD 500 juta atau sekitar Rp 8 triliun-Rp 9 triliun.

Dana tersebut dialokasikan untuk membangun fasilitas manufaktur penyimpanan energi baterai sodium-ion di Batam, Kepulauan Riau.

Pabrik baterai berkapasitas 1 GWh tersebut bakal berlokasi di Wiraraja Industrial Park I, Kabil, Batam.

Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji, menyampaikan investasi ini membuktikan bahwa Indonesia tetap menjadi daya tarik utama bagi investor global, khususnya dalam pengembangan ekosistem baterai dan energi terbarukan.

"Nilai investasi tahap awal USD 500 juta ini setara dengan Rp 8 triliun sampai Rp 9 triliun. Ini bukti investor sangat tertarik ke Indonesia, apalagi kita konsisten mengembangkan ekosistem baterai," kata Sarmuji dalam penandatanganan kerja sama di Kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis, (29/10).

Sarmuji menjelaskan, baterai sodium-ion produksi Batam tersebut nantinya dimanfaatkan untuk kendaraan listrik, pusat data (data center), hingga penyimpanan energi dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Investasi ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian joint venture yang ditandatangani di Washington, D.C. pada 18 Februari 2026 yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Kemenperin berkomitmen membantu mengurai kendala (bottleneck) agar proyek dapat berjalan lancar.

President PT Tynergy Technology Group Yan Purba menambahkan, fasilitas ini mengadopsi teknologi baterai sodium-ion generasi ketujuh yang dikembangkan untuk bersaing dengan baterai berbasis lithium. Bahan baku utama seperti garam dan grafit ditargetkan dipasok langsung dari Indonesia.

Selain memenuhi kebutuhan domestik, separuh dari hasil produksi pabrik dialokasikan untuk pasar ekspor seiring adanya calon pembeli (offtaker) dari Amerika Serikat.

Proyek ini diperkirakan menyerap 100 hingga 300 tenaga kerja pada tahap awal. Selain manufaktur baterai, investasi juga mencakup riset sistem pengelolaan daya berbasis kecerdasan buatan (AI), pengolahan pasir silika, serta rencana ekspansi pabrik berkapasitas 2–10 GW di Pulau Galang, Batam.