Kumparan Logo

Investor China dan UEA Bidik Proyek Industrialisasi Garam di Sampang, Madura

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi petani garam. Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi petani garam. Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memfasilitasi pembangunan industrialisasi garam di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, menyusul adanya investor asing yang berminat berinvestasi dan membangun industri garam di wilayah tersebut.

Direktur Utama (Dirut) PT Garam, Abraham Mose, mengatakan terdapat dua perusahaan asing yang menyatakan minat berinvestasi dalam pengembangan industri garam di Kabupaten Sampang, yakni asal China dan Uni Emirat Arab.

"Selain akan menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat dan petambak garam di Sampang, juga kehadiran investor ini bisa mendorong program percepatan swasembada garam yang dicanangkan pemerintah," kata Abraham seperti dilansir Antara, dikutip, Sabtu (26/9).

Abraham menjelaskan, Sampang menjadi sasaran investor untuk pengembangan industrialisasi garam karena wilayah ini memiliki lahan tambak garam yang cukup luas, sekitar 1.300 hektare.

Pengelola Salt Centre memanen garam di Salt Centre Banyusangka, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Selasa (7/11/2023). Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTO

Selain itu, kondisi air laut di kabupaten ini juga dinilai sangat baik untuk dikelola menjadi air tua, sehingga hasil produksi garam dipastikan akan lebih optimal. Dukungan masyarakat serta sarana pengembangan usaha yang tersedia saat ini turut menjadi pertimbangan bagi investor.

"Beberapa hal ini yang menjadi pertimbangan mengapa investor asing dari Tiongkok dan Uni Emirat Arab tertarik berinvestasi di Sampang," ujarnya.

Ia menambahkan, PT Garam bersama Kementerian Investasi turut membantu melakukan studi pra-kelayakan (pre-feasibility study/pre-FS) dan studi kelayakan, termasuk membantu komunikasi terkait penyediaan tambahan lahan apabila nantinya dibutuhkan.

"Kami juga sering sowan ke Pak Bupati Sampang agar usaha baik yang berdampak positif bagi ekonomi masyarakat ini bisa terealisasi dengan baik. Selain itu, supaya masyarakat bisa ikut bangga dengan adanya industrialisasi garam di Sampang ini," ucapnya.

Abraham menjelaskan, proses penentuan pelaksanaan proyek, mulai dari tahap pra hingga studi kelayakan, sampai penentuan mitra pelaksana proyek, membutuhkan waktu sekitar satu tahun.

"Sekarang ini masih September dan baru menyelesaikan FS, lalu menentukan partner IPC, baru setelah itu berlanjut ke pembangunan proyek," sebutnya.

Industri garam yang hendak dikembangkan di Kabupaten Sampang akan menggunakan metode Mechanical Vapor Recompression (MVR), atau teknologi daur ulang energi termal.

Pengelola Salt Centre menunjukkan garam hasil panen di Salt Centre Banyusangka, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Selasa (7/11/2023). Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTO

Menurut Abraham, metode ini mampu mengurangi penggunaan energi uap tradisional hingga 70-90 persen, karena dapat mendaur ulang panas yang ada, sehingga menghasilkan produk garam dengan tingkat kemurnian sangat tinggi sesuai standar baku industri.

Metode ini juga diklaim dapat menurunkan emisi karbon secara signifikan, karena mengandalkan elektrifikasi kompresor alih-alih pembakaran bahan bakar fosil secara terus-menerus. Proses penguapannya pun berjalan kontinu dan masif, tanpa bergantung pada cuaca atau sinar matahari.

"Dengan demikian, metodenya berbeda dengan tambak garam tradisional yang selama telah berjalan. Hasil lebih bagus dan produksi lebih banyak," jelasnya.

Secara terpisah, Bupati Sampang Slamet Junaidi sangat mendukung dan terbuka bagi investor yang ingin menanamkan modal di Kabupaten Sampang.

"Pemkab siap mendukung kelancaran investasi ini, karena jika investor masuk maka yang akan merasakan dampak positifnya adalah masyarakat dan Pemkab Sampang," tegasnya.