Investor Global Ramai-Ramai Tinggalkan Dolar AS
·waktu baca 3 menit

Dolar Amerika Serikat terus melemah terhadap hampir semua mata uang utama, menjadi sinyal bahwa investor global mulai berpaling dari mata uang paling berpengaruh di dunia.
Sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat, nilai dolar telah turun lebih dari 10 persen terhadap euro, pound sterling, dan franc Swiss.
Mengutip Bloomberg, pelemahan ini dianggap sebagai respons atas kebijakan Trump yang dinilai meresahkan pasar. Kenaikan tarif impor, rencana pemotongan pajak yang memperbesar defisit, tekanan terhadap bank sentral, serta pendekatan hukum agresif terhadap lawan politik menjadi pemicunya.
Pemerintah AS terlihat tidak terburu-buru merespons kondisi ini. Beberapa pelaku pasar bahkan meyakini bahwa pemerintahan Trump sengaja membiarkan dolar melemah demi mendongkrak daya saing industri manufaktur. Dugaan itu sempat membuat dolar jatuh 4 persen terhadap dolar Taiwan dalam waktu hanya satu jam.
Pelemahan dolar menjadi perhatian serius karena kebutuhan pembiayaan pemerintah AS kini telah melewati USD 4 triliun per tahun. Sebagian besar pendanaan ini bergantung pada investor asing. Semakin rendah nilai dolar, semakin besar potensi kerugian yang dialami investor luar negeri ketika mengkonversi hasil investasi mereka ke mata uang lokal.
“Trump benar-benar bermain api,” ujar Stephen Miller, konsultan GSFM di Australia. Ia memperingatkan bahwa pelemahan bertahap dolar bisa berubah menjadi krisis jika investor global mulai menarik dananya. Kondisi ini bisa memicu lonjakan biaya pinjaman dan memperburuk tekanan fiskal.
Sejak awal tahun, posisi jual terhadap dolar terus membesar. Data CFTC menunjukkan bahwa pada pertengahan Juni, nilai posisi jual bersih terhadap dolar mencapai USD 15,9 miliar. Survei Bank of America mengungkap bahwa kepemilikan dolar di kalangan manajer dana global kini berada di titik terendah dalam dua dekade terakhir.
Sejumlah analis besar mulai memberikan proyeksi yang lebih pesimistis. Morgan Stanley memperkirakan dolar akan turun ke level terendah sejak masa pandemi, sementara Goldman Sachs menilai dolar saat ini dinilai terlalu mahal hingga 15 persen.
Defisit Melebar
Kondisi fiskal AS juga memperburuk sentimen pasar. Moody’s telah menurunkan peringkat kredit pemerintah AS pada Mei, dengan alasan lonjakan defisit yang kini melebihi 6 persen dari produk domestik bruto. RUU pajak baru versi Trump yang tengah dibahas di Kongres diperkirakan akan menambah beban defisit hampir US\$3 triliun dalam sepuluh tahun mendatang.
Kepercayaan investor terhadap obligasi pemerintah juga mulai terkikis. Saat imbal hasil surat utang AS naik, dolar justru melemah, berbanding terbalik dengan pola yang selama ini berlaku. Para investor kini mulai memperlakukan obligasi AS sebagai aset yang tidak lagi sepenuhnya aman.
“Begitu investor global mulai mendiversifikasi aset dari dolar, nilainya akan makin turun. Dan jika itu sudah terjadi, sangat sulit untuk dibalikkan,” ujar Leah Traub, manajer portofolio dari Lord Abbett.
