Investor Pasar Modal Capai 5,8 Juta, Milenial dan Gen Z Mulai Melirik Investasi
ยทwaktu baca 2 menit

Kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan tren positif di tengah masih berlangsungnya pandemi COVID-19. Kondisi ini juga dibarengi meningkatnya jumlah investor di bursa saham.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen mengatakan, terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari jumlah investor. Di mana hingga 30 Juli 2021 jumlah single investor identification (SID) mencapai 5,8 juta orang.
"Jumlah SID ini sudah menembus 5,82 juta atau naik 50 persen secara year to date," jelas Hoesen dalam virtual conference OJK, Kamis (5/8).
Menurut Hoesen, pertumbuhan jumlah investor ini paling banyak terjadi di sepanjang bulan Juli 2021. Di samping itu, bila melihat investor yang masuk pasar modal, kalangan milenial dan generasi Z mulai mendominasi.
Selama masa pandemi, lanjut Hoesen, jumlah investor di bawah usia 30 tahun mencapai lebih dari 58 persen dari total keseluruhan pemain saham.
"Kaidah sederhananya saat pasar masih melihat perkembangan pemulihan akibat pandemi, tentu banyak yang bahkan bersifat wait and see untuk memutuskan dalam berinvestasi. Namun yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat kita berbondong-bondong terjun berinvestasi di pasar modal," jelas Hoesen.
Hal ini juga diamini Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Tirta Segara. Tirta mengungkapkan pada semester pertama 2021 jumlah investor pasar modal meningkat signifikan hingga 96 persen secara year on year.
"Dan ini didominasi oleh generasi milenial dan generasi Z. Tentu fenomena peningkatan jumlah investor pasar modal ini merupakan peningkatan yang menggembirakan," ujar Tirta.
Kendati demikian, dia mengungkapkan bahwa peningkatan tersebut mesti dibarengi tiga program utama dalam menjaga kepercayaan investor di pasar modal. Pertama dengan peningkatan literasi keuangan, wabil khusus pemahaman terhadap investasi.
Selanjutnya, upaya kedua adalah perluasan akses keuangan dan pasar modal supaya lebih merata. Produk investasi yang lebih fleksibel menjadi hal yang krusial di tengah pandemi.
"Ketiga adalah program literasi dan inklusi keuangan. Menyikapi semakin banyaknya produk investasi yang hybrid, sinergi antara regulator, pemerintah dan industri menjadi sebuah keharusan," pungkas Tirta Segara.
