Investor Ritel Disebut Tak Tertarik Saham Bukalapak dan GoTo, Apa Alasannya?
·waktu baca 2 menit

Startup unicorn asal Indonesia, GoTo dan Bukalapak dikabarkan bakal segera melantai di Bursa Efek Indonesia melalui Initial Public Offering (IPO). Bukalapak bahkan dikabarkan bakal melakukan aksi korporasi tersebut pada 29 Juli mendatang.
Meski demikian, investor ritel dikabarkan tidak terlalu tertarik dengan dua unicorn yang bakal go public tersebut. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM mengatakan salah satu alasan investor ritel tidak terlalu tertarik dengan IPO Bukalapak dan GoTo adalah karena kedua unicorn ini masih membukukan kerugian.
“Kami di ground checking pada nasabah Mirae Asset juga enggak terlalu banyak yang meminati IPO Bukalapak. Karena kinerja dari emiten teknologi itu mencatatkan kerugian,” ujar Roger dalam Mirae Asset Day, Kamis (8/7).
Sehingga menurut Roger, investor ritel akan cenderung menunggu harga IPO terlebih dahulu. Dengan kondisi perusahaan yang masih merugi, harga IPO akan menentukan apakah saham Bukalapak atau GoTo akan terserap oleh investor ritel.
Artinya, jika harga IPO nantinya terlalu mahal maka menurut Roger, ada kemungkinan investor tidak akan tertarik. Sebab kinerja bottom line-nya masih minus.
“Kalau kinerja, Bukalapak masih mencatatkan kerugian Rp 1,7 triliun. Itu juga mungkin jadi pertimbangan dari sisi harga apakah nanti di IPO dijual dengan harga mahal atau bisa terjangkau oleh ritel. Karena jumlahnya juga cukup besar. Apakah bisa diserap oleh ritel,” ujarnya.
Namun tidak hanya Bukalapak dan GoTo, Roger membeberkan bahwa sejatinya emiten sektor teknologi banyak yang masih membukukan kerugian. Hanya saja, sektor ini memiliki keunggulan khususnya di bidang penguasaan sumber data. Apalagi startup unicorn sekelas Bukalapak dan GoTo, keduanya tentu memiliki basis data pelanggan yang sangat besar. Di era new economy saat ini, basis big data tersebut menjadi sumber daya utama.
“Namun dengan adanya new economy ini yang kita lihat mungkin sekarang lebih ke prospek sumber daya data. GoTo punya data puluhan juta, Bukalapak pun demikian,” ujarnya.
