Kumparan Logo

Jadi Gaya Hidup, Pelari AS Rela Rogoh Puluhan Juta demi Outfit Premium

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi lari. Foto: ABB Photo/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lari. Foto: ABB Photo/Shutterstock

Pelari kini tidak lagi sekadar mengejar catatan waktu terbaik, melainkan juga penampilan. Tren ini membuat banyak penggemar lari rela mengeluarkan uang hingga puluhan juta rupiah untuk membeli pakaian dan aksesori premium yang menggabungkan unsur fesyen dan teknologi.

Salah satunya dilakukan Andrew Christofferson. Sebelum berlari sejauh 5 mil, pria berusia 28 tahun itu mengenakan kaus MothTech buatan Satisfy seharga USD 140 atau setara Rp 2,5 juta (kurs Rp 18.029).

Mengutip Bloomberg, kaus tersebut memiliki lubang-lubang hasil potongan laser yang sengaja dibuat menyerupai pakaian lama, tetapi diklaim mampu meningkatkan sirkulasi udara pada area tubuh yang menghasilkan panas.

Koleksi perlengkapan lari Christofferson bahkan hampir mencapai USD 5.000 atau sekitar Rp 90,14 juta, belum termasuk sepatu. Ia juga menggunakan celana pendek Space-O dari Satisfy seharga USD 180 atau setara Rp 3,24 juta yang dilengkapi micro-perforation untuk meningkatkan ventilasi.

“Itu angka yang cukup mengerikan,” kata Christofferson sambil tertawa.

Ilustrasi warga negara asing adakan acara olahraga lari. Foto: New Africa/Shutterstock

“Saya memang menyukai fesyen dan peduli dengan penampilan saya, dan kepedulian terhadap penampilan itu juga berlaku saat saya berlari,” tambahnya.

Fenomena tersebut mencerminkan perubahan budaya lari yang kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan simbol status sosial.

Perlengkapan lari bukan lagi sekadar menunjang performa, melainkan juga menjadi identitas yang dikenakan saat berkegiatan sehari-hari, mulai dari makan siang hingga berbelanja.

Data Circana menunjukkan penjualan pakaian khusus lari di Amerika Serikat naik 10 persen menjadi hampir USD 1 miliar atau sekitar Rp 18,029 triliun dalam 12 bulan hingga Mei. Kenaikan tersebut didorong meningkatnya harga di hampir seluruh kategori, mulai dari celana pendek, kaus, hingga kaus kaki.

Melihat tren tersebut, semakin banyak merek yang menggabungkan teknologi dan desain premium untuk bersaing dengan pemain besar seperti Nike dan Adidas. Selain Satisfy, Christofferson juga menggunakan kacamata District Vision yang dijual mulai USD 275 atau setara Rp 4,95 juta, serta kaus kaki Bandit Running seharga sekitar USD 36 atau Rp 649 ribu.

CEO JD Sports Fashion Plc, Régis Schultz, menilai komunitas lari kini berkembang layaknya ruang sosial baru.

“Sekarang ada klub lari baru, yang ibarat klub malam baru. Ini sudah menjadi aktivitas sosial,” kata Schultz.

Ilustrasi lari. Foto: Real Sports Photos/Shutterstock

“Saya datang ke tiga atau empat di antaranya dan melihat lebih banyak orang memakai riasan dibanding di sebuah pub,” tambah dia.

Perubahan perilaku konsumen juga dirasakan Riley Bourbon, warga Brooklyn yang mulai berlari saat pandemi COVID-19. Kini ia mengikuti dua hingga empat maraton setiap tahun dan telah mengoleksi pakaian lari senilai sekitar USD 1.200 atau setara Rp 21,63 juta.

Awalnya, Bourbon hanya mengenakan kaus dan celana pendek biasa. Kini, ia memilih produk premium seperti Bandit dan Satisfy, termasuk kaus MothTech yang dirancang berdasarkan penelitian pola keringat atlet.

“Saat pertama kali mulai berlari, saya benar-benar tidak tahu harus memakai apa. Saya hanya mengenakan kaus dan celana pendek,” ujarnya.

Ia mengaku pakaian tersebut juga nyaman dipakai untuk aktivitas setelah berolahraga.

“Saya menyukainya karena bisa dipakai saat berlari, lalu kalau setelah itu harus datang ke suatu acara, pakaian ini masih cukup pantas dipakai,” katanya.

Padahal selama ini lari dikenal sebagai olahraga dengan hambatan biaya yang rendah karena hanya membutuhkan sepatu dan pakaian yang nyaman. Namun kini, pemandangan di taman-taman Amerika dipenuhi pelari dengan pakaian berbahan teknologi tinggi, sepatu premium, jam tangan Garmin seharga USD 700 atau sekitar Rp 12,62 juta, rompi hidrasi, sabuk lari, hingga headphone khusus olahraga.

Ilustrasi Pelari. Foto: Dmitro Pravda/Shutterstock

Salah satu pendiri District Vision, Max Vallot, menilai industri pakaian lari tengah mengalami transformasi seperti yang pernah terjadi di industri fesyen.

“Rasanya seperti 10 tahun lalu ketika pakaian performa hanya diisi H&M, Zara, dan Topshop,” kata Vallot.

“Lalu beberapa merek muncul hampir bersamaan dan berkata, ‘Tidak, kami akan menggunakan bahan yang lebih canggih. Kami akan bekerja sama dengan pabrik yang lebih berkualitas, serta menggunakan kemasan dan label yang lebih premium,’” tambahnya.

District Vision yang juga menjual pakaian olahraga kini membukukan pendapatan sekitar USD 10 juta atau setara Rp 180,29 miliar per tahun dengan pertumbuhan sekitar 30 persen setiap tahun.

Tren serupa juga dialami Carra Theodore di Los Angeles. Dalam 11 bulan sejak mulai berlari, ia telah menghabiskan sekitar USD 3.500 atau setara Rp 63,1 juta untuk membeli perlengkapan lari. Ia mengaku mulai serius berlari setelah merasa tertantang oleh ucapan seseorang.

Kini Theodore aktif mengikuti komunitas lari dan memiliki sejumlah kaus MothTech serta produk terbaru lini ACG Nike.

CEO Fleet Feet Joey Pointer mengatakan ledakan minat terhadap olahraga lari memang nyata.

“Booming olahraga lari itu nyata,” kata Pointer.

Seorang penjual menunggu pelanggan di toko sepatu di pasar utama saat Presiden Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengumumkan anggaran 2023 di tengah krisis ekonomi negara, di Kolombo, Sri Lanka, Senin (14/11/2022). Foto: Dinuka Liyanawatte/REUTERS

Data Sports & Fitness Industry Association mencatat 52,3 juta warga AS aktif berlari sepanjang 2025, seiring rekor peserta Boston Marathon 2026 yang menyentuh angka tertinggi sejak 2014. Komunitas lari kini bertransformasi menjadi sarana olahraga sekaligus ruang sosialisasi, dengan survei Strava merekam 30 persen responden Generasi Z berniat menaikkan anggaran kebugaran tahun ini.

Meski demikian, tren belanja belum sepenuhnya merata. Rata-rata pelanggan Fleet Feet menghabiskan USD 920 atau sekitar Rp 16,58 juta per tahun, tetapi frekuensi kunjungan toko melambat akibat sensitivitas harga. CEO Fleet Feet Joey Pointer juga menyoroti pergeseran selera, di mana warna biru tua kini menggeser hitam sebagai tren pakaian lari pria paling populer.

Di sisi lain, CEO Bandit Nick West menilai pasar pakaian lari premium tumbuh lebih cepat dari industri pakaian umum karena menjadi sarana ekspresi identitas. Memanfaatkan momentum tersebut, merek seperti Bandit dan Satisfy menerapkan strategi penawaran terbatas (drop) serta keanggotaan berbayar USD 125 atau sekitar Rp 2,25 juta per tahun untuk menjaga eksklusivitas.