Jadi Pendorong Inflasi, Harga Emas Diprediksi Masih Akan Terus Naik

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat, laju inflasi pada Agustus 2019 sebesar 0,12 persen. Angka itu lebih rendah dari ekspektasi ekonomi, namun lebih tinggi dari tren musiman Agustus selama tiga tahun terakhir, yang biasa mencatatkan deflasi.
Ekonom Bank Danamon, Wisnu Wardana, mengungkapkan salah satu pendorong inflasi adalah kenaikan harga emas, termasuk jenis perhiasan.
“Tapi secara keseluruhan inflasi masih dalam kisaran target Bank Indonesia 2,5 persen - 4,5 persen tahun ini, meskipun kami mencatat tren harga emas yang dapat terus mendorong inflasi inti,” katanya melalui pernyataan tertulis yang diterima kumparan, Senin (2/9).
Menurutnya, tren kenaikan harga emas yang bisa mendorong inflasi inti, tidak akan secara signifikan mengubah sikap Bank Indonesia pada kebijakan moneter. Jika Federal Reserve memilih untuk memotong suku bunga lebih lanjut bulan ini, maka BI lebih mungkin akan mengikutinya.
Kepala BPS, Suhariyanto, memperkirakan harga emas masih akan terus naik. Hal ini dipicu oleh perang dagang yang menyebabkan ketidakpastian global.
“Kita tahu kondisi global sedang tidak pasti. Akibatnya investor dan masyarakat beralih ke emas karena dianggap sebagai investasi yang aman. Makanya harganya naik cukup signifikan," katanya.
Selama Agustus 2019, harga emas Antam saja tercatat naik 7,85 persen. Sementara mengutip data Reuters, harga emas dunia tercatat mengalami kenaikan 7,52 persen.
