Jahja Setiaatmadja, Presdir BCA, Sukses dengan Filosofi Tak Jadi Pohon Taoge

29 Juli 2022 11:10
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Jahja Setiaatmadja. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jahja Setiaatmadja. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
ADVERTISEMENT
Kalau pohon taoge cepat tumbuh, tapi kena angin sedikit dia mati tumbang deh. Jadi jangan cari yang instan, tapi betul-betul berakar dan berpondasi, sehingga kita memahami sedalam-dalamnya setiap masalah yang kita hadapi di kemudian hari."
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja saat ini juga dikenal sebagai salah satu bankir senior di Indonesia. Namun siapa sangka, kerja di bank bukanlah cita-citanya.
ADVERTISEMENT
Dalam program The CEO kumparan, Jumat (29/7), Jahja bercerita bahwa saat kecil ingin menjadi dokter gigi saat. Namun karena kondisi ekonomi orang tua yang tak memadai, Jahja memilih untuk menempuh jurusan ekonomi. Ia pun masuk di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) dan lulus pada tahun 1982.
"Saya ini dari keluarga enggak mampu ya, ingin jadi dokter gigi, enggak mampu orang tua. Akhirnya masuk ekonomi, terdampar, tapi saya bersyukur, karena di situ saya mendapat networking dan betul-betul ilmu yang memadai dan betul-betul mapan," ujar Jahja.
Sejak semester akhir kuliah, Jahja bekerja sebagai junior accountant di perusahaan akuntan publik bernama Pricewaterhouse. Tugas pertama yang ia dapatkan adalah memfotokopi. Meski demikian, Jahja tetap gigih menjalani tugasnya itu.
ADVERTISEMENT
"Waktu di auditor, tugas pertama saya apa? Suruh fotocopy sama senior saya, eh nih kamu fotocopy-in ini, yaudah saya fotocopy, itu pertama. Tapi akhirnya di-training, bekerja di perusahaan-perusahaan yang harus kita audit ya, di situlah kita mulai menimba pengalaman," terangnya.
Untuk menambah pundi-pundi rupiah, Jahja juga mengambil pekerjaan sambilan sebagai tukang keliling sewa video. Berkat kegigihannya mencari uang ini, ia mendapatkan hasil yang luar biasa.
Jahja Setiaatmadja. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jahja Setiaatmadja. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Saat membuka rental kaset video, Jahja pun bertemu dan akhirnya mengenal salah satu Direktur PT Kalbe Farma saat itu, Rudy Capelle, yang juga menjadi pelanggan tetap rental video Jahja saat itu. Menurut Jahja, almarhum Rudy saat itu mengatakan bahwa Kalbe Farma membutuhkan karyawan, ia pun mengambil kesempatan untuk melamar pekerjaan sebagai Asisten Manajer.
ADVERTISEMENT
Karier Jahja di Kalbe Farma juga dinilai baik, ia dipromosikan naik jabatan sebagai Direktur Keuangan. Tak lama setelah itu, ia pun memilih berkarier sebagai Direktur Keuangan di Indomobil. Atas kerja kerasnya, Jahja dipindahkan ke BCA pada tahun 1990 san menjabat sebagai Wakil Kepala Divisi.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Di BCA juga awalnya kita masuk BCA terbilang generasi baru, tahun 90, berarti saya baru 35 tahun pada saat itu, menghadapi wah di BCA sudah banyak yang senior-senior, kepala wilayah, kepala divisi itu relatif sudah senior-senior sekali ya," kata Jahja.
"Jadi ada satu proven bahwa kinerja kita bisa meyakinkan mereka, baru kita diterima, usulan-usulan, hasil karya kita baru bisa diterima," sambungnya.
Enam tahun kemudian, Jahja kembali diangkat menjadi Kepala Divisi Treasury Bank BCA hingga 1999. Tak lama setelah itu, BCA diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Pada saat itu, Jahja diangkat menjadi Direktur hingga 2005 dan beberapa tahun kemudian kembali diangkat menjadi Wakil Presiden Direktur. Jahja pun kembali meraih kesuksesannya dan diberi kepercayaan untuk menduduki jabatan Presiden Direktur dari 2011 hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Menurut Jahja, kunci dari setiap pekerjaannya adalah tekun, gigih, dan sabar. Menurutnya, tak ada yang instan untuk mencapai posisi atas.
"Setiap pekerjaan saya pikir ada permasalahan, kesulitan, tapi kalau kita tekun, gigih, dan bersabar bisa kita atasi semua, yakin, haqqulyakin itu. pegangan bersama," katanya.
Jahja pun mengibaratkan pencapaiannya seperti tanaman yang kokoh. Butuh waktu yang lama dan proses yang tak sebentar untuk bisa kuat.
"Kadang mereka mau berkarya maunya instan. Ingat, kalau menanam sesuatu itu kan harus tanahnya digemburkan, rajin disiram, bibitnya cari yang baik, disiram, rajin dipupuk, nah itu akan jadi tanaman yang kokoh. Kalau pohon taoge cepat tumbuh, tapi kena angin sedikit dia mati tumbang deh," tutur Jahja.
ADVERTISEMENT
"Jadi jangan cari yang instan, tapi betul-betul berakar dan berpondasi, sehingga kita memahami sedalam-dalamnya setiap masalah yang kita hadapi di kemudian hari," pungkasnya.