Kumparan Logo

Jawab Netizen, KAI Beri Penjelasan soal Kereta Tak Bisa Ngerem Mendadak

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

Ilustrasi kereta api. Foto: KAI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kereta api. Foto: KAI

Insiden kereta api tertemper truk di Semarang Jawa Tengah dan Tanjung Karang, Lampung, Selasa (18/7), menyisakan banyak pertanyaan bagi masyarakat, kenapa kereta api tidak bisa berhenti atau mengerem mendadak.

PT KAI melalui akun twitternya, @KA121, menjelaskan alasan kenapa kereta api tidak bisa rem mendadak. Kereta tidak bisa berhenti mendadak karena panjang dan bobot kereta. Semakin panjang dan berat rangkaian kereta, maka jarak yang dibutuhkan untuk kereta api bisa benar-benar berhenti semakin panjang.

Adapun di Indonesia, rata-rata kereta penumpang terdiri dari 8-12 kereta, dengan bobot mencapai 600 ton. Itu belum termasuk penumpang dan barang bawaannya.

"Dengan kondisi tersebut, maka akan dibutuhkan energi yang besar untuk membuat rangkaian kereta berhenti," demikian penjelasan KAI.

Sistem Pengereman

Pengereman yang dipakai pada KA saat ini menggunakan jenis rem udara. Cara kerjanya adalah dengan mengompresi udara dan disimpan hingga proses pengereman terjadi.

Saat masinis mengaktifkan sistem pengereman, udara tadi akan didistribusikan melalui pipa kecil di sepanjang roda dan membuat friksi pada roda. Friksi ini yang akan membuat kereta berhenti.

Walaupun kereta telah dilengkapi rem darurat, rem ini tetap tidak bisa berhenti mendadak. Rem ini hanya menghasilkan lebih banyak energi dan tekanan udara yang lebih besar, untuk menghentikan kereta lebih cepat.

"Jadi, meskipun masinis melihat ada yang menerobos palang kereta, biasanya akan tetap terlambat melakukan pengereman."

Adapun faktor yang berpengaruh pada jarak pengereman kereta adalah kecepatan. Jadi, semakin tinggi kecepatan kereta api, maka semakin panjang jarak pengeremannya.

Petugas berusaha mengevakuasi gerbong penumpang kereta api KA 112 Brantas usai menabrak truk tronton di perlintasan kereta api JPL 6 KM 1+523 petak jalan Jerakah - Semarang Poncol, Madukoro Raya, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (18/7/2023). Foto: Makna Zaezar/ANTARA FOTO

Faktor lainnya adalah masalah kemiringan jalan rel, persentase gaya pengereman, jenis kereta api (kereta penumpang atau barang), jenis rem (blok komposit atau blok besi cor), dan kondisi cuaca.

Bahaya Jika Kereta Rem Mendadak

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, rem pada rangkaian kereta api bekerja dengan tekanan udara. Rem pada roda dihubungkan ke piston dan susunan silinder.

Adapun mekanisme yang mengurangi tekanan udara di kereta api, akan memaksa rem mengunci dengan roda.

Jika tekanan dilepaskan secara tiba-tiba akan menyebabkan pengereman yang tidak seragam, sehingga rem bekerja lebih dulu dari titik keluarnya udara.

Akibatnya, pengereman yang tidak seragam bisa menyebabkan kereta dan gerbong tergelincir, terseret, atau terguling.

Simulasi jarak yang dibutuhkan lokomotif untuk berhenti. Foto: Twitter/@KAI121