Bisnis
·
15 September 2021 16:56
·
waktu baca 3 menit

Jejak Hitam Edward Soeryadjaya di Bank Summa, Dana Pensiun Pertamina, dan ASABRI

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Jejak Hitam Edward Soeryadjaya di Bank Summa, Dana Pensiun Pertamina, dan ASABRI (810519)
searchPerbesar
Terdakwa kasus dugaan korupsi pengelolaan dana pensiun PT Pertamina (Persero) yang juga Direktur PT Ortus Holding Ltd, Edward Soeryadjaya, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (5/11/2018). Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Nama Edward Soeryadjaya, anak sulung pendiri PT Astra International William Soeryadjaya, kembali mencuat. Direktur Ortus Holding Ltd itu ditetapkan Kejaksaan Agung sebagai tersangka baru dalam kasus PT ASABRI yang merugikan negara hingga Rp 23,7 triliun.
ADVERTISEMENT
Edward adalah sosok yang punya rekam jejak panjang dalam dunia bisnis. Sebagai anak pendiri salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, Edward pernah mencoba untuk membangun kerajaan bisnis sendiri. Pada 1988, Edward memborong saham Bank Agung Asia dan kemudian mengubahnya menjadi Bank Summa.
Namun, bank ini tak berumur panjang karena kesalahan manajemen. Pemberian kredit terlalu berisiko sehingga Bank Summa terbelit utang dan kas tidak cukup untuk operasional. Bank Summa kalah kliring akibat tidak sanggup mencairkan commercial paper, promes, dan surat utang lain yang dijamin Summa senilai Rp 70 miliar.
Tercatat pada 1992 Bank Summa memiliki kredit macet hingga Rp 1,2 triliun dan utang Rp 500 miliar. Ayah Edward, William Soeryajdjaya, sampai menjual saham PT Astra International Tbk demi melunasi kewajiban Bank Summa.
ADVERTISEMENT
Bank ini akhirnya kolaps, ditutup Bank Indonesia seiring dengan likuidasi yang dikeluarkan Menteri Keuangan JB Sumarlin pada 14 Desember 1992.

Terlibat Kasus Dana Pensiun Pertamina

Pada 2017, Edward dijerat sebagai tersangka terkait dugaan korupsi pengelolaan dana pensiun Pertamina senilai Rp 1,4 triliun di PT Sugih Energy Tbk (SUGI). Edward dinilai oleh hakim terbukti bersalah karena mengatur jual-beli saham pada pengelolaan dana pensiun melalui SUGI.
Jejak Hitam Edward Soeryadjaya di Bank Summa, Dana Pensiun Pertamina, dan ASABRI (810520)
searchPerbesar
Sidang vonis kasus dugaan korupsi dengan terdakwa Direktur Ortus Holding Ltd Edward Soeryadjaya di Pengadilan Tipikor Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Edward dinilai tidak melakukan kajian mendalam terlebih dahulu saat memutuskan transaksi jual-beli saham dana pensiun Pertamina. Hal itu mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 612 miliar.
Ia divonis 12 tahun 6 bulan penjara, dengan denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan. Selain itu, ia juga dihukum membayar uang pengganti Rp 25,6 miliar. Kasusnya pun naik banding. Di tingkat banding, hukuman Edward malah diperberat oleh hakim menjadi 15 tahun penjara.
ADVERTISEMENT
Kemudian di tingkat kasasi, majelis hakim memutus memperkuat vonis banding terhadap Edward. Dia tetap dihukum 15 tahun penjara. Sementara untuk denda dan uang pengganti tetap, sebagaimana putusan pengadilan tingkat pertama.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020

Kasus ASABRI

Bermula pada 2012, ada pertemuan antara Direksi PT ASABRI dengan Edward dan Betty Halim selaku Komisaris Utama PT Sinergi Millenium Sekuritas yang merupakan eks PT Millenium Danatama Sekuritas, terkait rencana penjualan saham PT Sugih Energy Tbk (SUGI).
Setelah itu, Edward meminta Betty untuk menjual saham SUGI dengan kesepakatan jika Betty dapat menjual 1 lembar saham, akan mendapatkan 2 lembar saham SUGI.
Betty pun mengelola saham SUGI dan aktif melakukan transaksi antara menine-neominenya sendiri sehingga berhasil menaikkan harga saham SUGI.
ADVERTISEMENT
Sebagai kompensasi, Edward memberikan 250 miliar lembar saham SUGI kepada Betty yang transaksinya dilakukan secara free of payment (FOP) melalui Nomine ES di Millenium Danatama Sekuritas.
Dalam kurun waktu 2013-2015, SUGI melalui nomine-nominenya di PT Millennium Danatama Sekuritas berhasil menaikkan harga sahamnya. Betty kemudian menjual saham SUGI kepada PT ASABRI.
"Karena saham SUGI tidak memiliki fundamental yang baik dan bukan merupakan saham yang Liquid sehingga mengalami penurunan harga," kata Leonard dalam keterangannya, Selasa (14/9).
Jejak Hitam Edward Soeryadjaya di Bank Summa, Dana Pensiun Pertamina, dan ASABRI (810521)
searchPerbesar
Gedung ASABRI. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Saham SUGI turun hingga Rp 140 per lembar. Kemudian PT ASABRI bekerja sama dengan 4 manajer investasi untuk memindahkan saham SUGI dari portofolio saham PT ASABRI menjadi underlying portofolio reksadana milik PT ASABRI.
Reksadana tersebut di Guru, reksa dana Victoria Jupiter, Reksadana Recapital Equity Fund, Reksadana Millenium Balanced Fund dan Reksadana OSO Moluccas Equity Fund tidak dengan harga pasar wajar tetapi dengan harga perolehan.
ADVERTISEMENT
Sisa saham SUGI yang masih ada di portofolio saham PT ASABRI (persero) kemudian dijual di bawah perolehan (cutloss) pada PT Tricore Kapital Sarana. Hal ini menimbulkan kerugian negara bagi PT ASABRI.