Jelang Lebaran, Banyak Pengusaha Gadai Mobil ke Pegadaian Buat Bayar THR

Di tengah masa pandemi COVID-19, banyak orang khususnya pengusaha yang menggadaikan barangnya di PT Pegadaian (Persero). Mobil menjadi barang yang banyak digadai menjelang Lebaran.
Sekretaris Perusahaan Pegadaian, Swasono Amoeng Widodo mengatakan, pada Januari hingga Februari, rata-rata orang yang menggadaikan mobil sebanyak 6,5 persen. Tapi sejak Maret hingga April naik dua kali lipat menjadi 13 persen.
"Jadi kenaikan Januari hingga April, naik hampir 30 persen. Artinya, masyarakat membutuhkan (uang)," kata dia dalam diskusi Zoom Bareng Pegadaian secara daring, Kamis (14/5).
Amoeng mengidentifikasi, alasan mereka menggadaikan mobil ke Pegadaian beragam. Salah satunya adalah untuk membayar THR pegawai atau orang yang bekerja dengannya.
Kata dia, di situasi pandemi ini, banyak usaha masyarakat yang terdampak, penjualan pun turun. Sedangkan THR harus tetap dibayar. Alhasil, para bos menggadaikan mobilnya demi bisa memberikan THR ke pegawai mereka.
"Ini biasanya 40 persen untuk konsumsi, 40 persen lagi buat bayar gaji. Mereka kan turun penjualannya, apalagi ada THR. Pengusaha ini kalau kasian sama pegawainya pasti kalau punya aset, dia gadaikan. Kalau jual mobil sekarang kan susah," terang Amoeng.
Kata dia, menjelang Lebaran yang tinggal beberapa hari ini, sangat mungkin angka gadai mobil di Pegadaian naik lagi. Selain untuk membayar gaji dan THR, mobil-mobil yang digadaikan juga biasanya karena ditinggal pulang kampung pemiliknya yang memiliki kendaraan roda empat lebih dari satu unit.
Secara keseluruhan, jumlah barang jaminan mobil di Pegadaian per April 2020 mencapai 3.651 unit yang terdiri dari gadai konvensional dan gadai syariah. Untuk total outstanding loan-nya (OSL) atau uang yang dipinjamkan dari gadai mobil mencapai Rp 311,7 miliar.
Sedangkan untuk gadai emas, Amoeng mengatakan tetap naik tapi tak signifikan. Meski begitu, gadai emas masih menjadi bisnis paling besar di perusahaan, sebanyak 85 persen portofolio Pegadaian adalah emas mulai, termasuk menabung emas dan menabung dalam tabungan buku emas.
"Jumlah nasabah tabungan emas 4 juta lebih, ini kan sudah bisa digadai. Hampir 90 persen portofolio kita emas," ujarnya.
Sedangkan untuk bisnis non-gadai, Amoeng mengaku cukup terdampak. Sebab dalam bisnis ini, masyarakat yang meminjam uang harus menjaminkan surat kendaraan atau (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor). Sementara di saat seperti ini, kata dia, terlalu berisiko menjaminkan BPKB karena rawan kredit macet.
"Makanya untuk non gadai ini kita lebih selektif," ujar dia.
Perusahaan pun sudah membuat perkiraan pendapatan dan laba hingga akhir tahun untuk menghadapi kemungkinan terburuk perusahaan karena terdampak corona. Untuk tiga bulan ke depan, dia optimistis Pegadaian bisa memperoleh laba 75 persen dari target.
