Jelang Pengumuman Suku Bunga The Fed, Wall Street Ditutup Melemah

20 September 2023 6:05 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street Foto: Wikimedia Commons
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (19/9). Seiring investor yang menantikan keputusan suku bunga terbaru dari bank sentral AS, The Fed.
ADVERTISEMENT
Mengutip Reuters, Rabu (20/9) Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 0,31 persen menjadi 34.517,73, S&P 500 (.SPX) kehilangan 0,22 persen menjadi 4.443,95 dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 0,23 persen menjadi 13.678,19.
Direktur Investasi Senior US Bank Wealth Management, Bill Northey mengatakan pasar tengah fokus menunggu keputusan suku bunga dan data ekonomi AS lainnya.
"Pasar jelas fokus pada setiap perubahan komunikasi dari Federal Reserve. Fokus yang kuat pada perspektif The Fed tentang inflasi dalam konferensi pers pasca-pertemuan," kata Northey.
Dia melanjutkan, sebetulnya The Fed sudah berhasil menjangkar inflasi selama setahun terakhir. Namun, ada kemungkinan inflasi akan berada di target atas The Fed yakni sebesar 2 persen.
Tak hanya merilis data suku bunga hari ini, The Fed juga akan merilis ringkasan proyeksi ekonomi AS, termasuk diagram yang akan memberikan gambaran sekilas tentang perkiraan lintasan suku bunga, inflasi dan pertumbuhan ekonomi oleh Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
ADVERTISEMENT
Kepala Strategi Simplify Asset Management di Philadelphia, Michael Green, mengungkapkan investor memproyeksi The Fed bakal mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lama. Fenomena ini disebut sebagai kebijakan higher for longer.
"Jika (The Fed) mengumumkan bahwa mereka menghapus penurunan suku bunga pada tahun 2024 dengan menaikkan dot plot, hal itu secara umum akan dilihat sebagai jeda yang sangat hawkish,” ungkap Green.
Di sisi lain, lonjakan tingkat inflasi tahunan Kanada yang tinggi imbas kenaikan harga BBM, dan anjloknya pembangunan perumahan di AS menambah ketidakpastian investor.