Jelang Usia 124 Tahun, Nama BRI Bergaung di Markas Besar PBB

Rabu, 26 Juni 2019 menjadi salah satu hari bersejarah bagi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau Bank BRI. Direktur Utama bank terbesar di Indonesia itu, Suprajarto, tampil sebagai salah satu pembicara di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat (AS).
Suprajarto diminta memaparkan pengalamannya memimpin BRI, terkait program pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dia menjadi panelis bersama pembicara dari 85 negara lainnya, di forum bertajuk 'Micro, Small and Medium-sized Enterprises (MSME) Day 2019'.
MSME Day yang digagas Majelis Umum PBB ini, digelar untuk ketiga kalinya. Peringatan ini merupakan pengakuan atas kontribusi UMKM, terhadap perekonomian global. Khususnya di negara-negara berkembang.
Data Dewan Internasional untuk Usaha Kecil atau International Council for Small Business (ICSB), UMKM meliputi 90 persen dari total perusahaan di dunia. Penyerapan tenaga kerjanya mencapai 60 hingga 70 persen, dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 50 persen.
Dengan kapasitas dan kontribusi ekonomi sebesar itu, UMKM bisa menjadi jalan bagi penciptaan tatanan perdamaian. Mengingat konflik-konflik yang muncul, salah satunya dipicu oleh perebutan sumber daya dan peran ekonomi.
Tak berlebihan jika forum global di Markas Besar PBB ini mengangkat tema 'Entrepreneurship and Sustainable Development in Building Peaceful Societies'.
Dalam panel itu, Suprajarto memaparkan fokus bisnis perbankannya ke segmen UMKM di Indonesia. Seperti kebanyakan UMKM di dunia, UMKM di Indonesia pun memiliki produktivitas ekonomi.
Masalahnya keinginan mereka untuk berkembang serta tumbuh jadi besar, terhambat oleh minimnya pembinaan dan ketiadaan akses perbankan untuk menambah modal.
“Sehingga tidak hanya memberikan akses berupa permodalan, Bank BRI juga berusaha mendorong pelaku UMKM agar naik kelas melalui program inkubasi serta teknologi,” papar Suprajarto di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat.
Dia juga mengungkapkan peran perseroan mendorong inklusi dan literasi keuangan di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan perluasan layanan Bank BRI hingga ke daerah remote Indonesia, keberadaan lebih dari 400 ribu agen BRILink, Teras BRI Kapal, serta penggunaan satelit BRI atau BRIsat yang dapat memberikan jangkauan layanan perbankan hingga ke pelosok Negeri.
Dengan semua layanan dan infrastruktur yang dimilikinya, Bank BRI kini telah memiliki 65 juta nasabah. Kalangan UMKM menjadi porsi terbesar penopang bisnis bank tersebut.
Bank BRI juga meluncurkan BRI Microfinance Center (BMC), yang ditujukan untuk mendukung pertumbuhan UMKM agar mampu bersaing ke pasar global.
Mengurusi UMKM yang identik dengan ‘uang receh’, tak menghambat BRI untuk tumbuh tak hanya jadi bank tertua di Indonesia, tapi juga terbesar. Suprajarto dengan percaya diri menyebut bank yang dipimpinnya sebagai, “The biggest microfinance in the world.”
Sebuah pernyataan yang bukan klaim sepihak. Majalah bisnis terkemuka Forbes dalam daftar Forbes 2000, bahkan menahbiskan BRI sebagai perusahaan publik terbesar di Indonesia untuk 2019 ini. Sedangkan secara global, BRI ada di ranking 363.
Parameter kinerja yang dipakai Forbes mencakup berbagai aspek. Yakni nilai pasar (market value), aset, pendapatan, dan tentu saja laba. Daftar yang dirilis Mei lalu itu, menyebut BRI memiliki nilai pasar USD 38,8 miliar, total aset senilai USD 90,2 miliar, USD 9,4 miliar, dan laba bersih USD 2,3 miliar.
Suprajarto juga memaparkan peran Bank BRI dalam menjalankan fungsi sebagai agent of development, melalui dukungan terhadap program BUMDes serta Kewirausahaan Pertanian. Saat ini Bank BRI telah melakukan pendampingan terhadap lebih dari 19.000 BUMDes di 152 kota di seluruh Indonesia.
Sementara untuk program Kewirausahaan Pertanian, Bank BRI telah menginisiasi program ini di 54 kota.
Senior Vice President ICSB, Vicki Stylanou, yang memoderatori panel tersebut memuji pencapaian BRI yang usianya akan genap 124 tahun.
Cikal-bakal Bank BRI bermula dari gagasan Patih Banyumas, Raden Bei Aria Wirjaatmadja, yang mendirikan De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau Bank Simpan Pinjam Pemuka Bumiputra Purwokerto.
Lembaga keuangan yang didirikan pada 16 Desember 1894 itu, kemudian bermetamorfosis dan terus berkembang hingga menjadi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau Bank BRI.
“Saya kira apa yang dilakukan BRI luar biasa. Apalagi punya satelit yang memperkuat program inklusi finansial. Jadi bisa menjangkau masyarakat di remote area di 17 juta pulau yang ada di Indonesia,” kata mantan pejabat di Departemen Keuangan Australia itu.
Menurutnya, mengelola sebanyak 65 juta nasabah dan tetap meraup laba, bukan perkara mudah. “Bisa jadi model untuk diikuti pihak lain,” kata spesialis perpajakan, literasi keuangan, dan tata kelola perusahaan itu.
