Jepang Punya Cadangan Minyak untuk 254 Hari Imbas Penutupan Selat Hormuz
ยทwaktu baca 3 menit

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan Jepang memiliki cadangan minyak yang cukup untuk 254 hari atau sekitar 8,5 bulan. Takaichi juga menyatakan pemerintah akan memastikan pasokan energi stabil meski Selat Hormuz ditutup akibat serangan AS-Israel ke Iran.
Hal itu disampaikan Takaichi saat Pertemuan Komite Anggaran DPR Jepang yang membahas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Dikutip dari The Mainichi, Selasa (3/3), Takaichi mengatakan pihaknya tengah mengumpulkan informasi terkait penutupan Selat Hormuz, rute pasokan energi yang penting bagi Jepang.
Takaichi menjelaskan sejumlah kapal tanker minyak yang menuju Jepang dalam keadaan siaga di Teluk Persia dan memastikan keselamatan awak kapal di perairan sekitarnya terjamin.
"Kami akan memastikan pasokan energi yang stabil ke negara kita. Langkah-langkah yang diperlukan akan segera diambil," kata Takaichi saat menjawab pertanyaan dari anggota Partai Demokrat untuk Rakyat, Satoshi Asano, soal dampak ekonomi serangan AS-Israel ke Iran terhadap Jepang.
Jepang sangat bergantung pada Timur Tengah utamanya Iran untuk minyak mentah. Jepang yang menjalin hubungan yang baik dengan Iran punya kepentingan dalam stabilitas di kawasan itu.
Juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, mengatakan serangan AS-Israel ke Iran tidak diperkirakan akan berdampak langsung pada pasokan minyak Jepang. Cadangan minyak Jepang selama 254 hari sudah termasuk cadangan yang dimiliki sektor swasta, serta sekitar 3 minggu konsumsi gas alam cair.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan telah menyerang setidaknya 3 kapal tanker minyak yang dimiliki Amerika Serikat (AS) dan Inggris di kawasan itu.
Jepang 90% Tergantung pada Minyak Timur Tengah
Jepang mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyak mentah dari luar negeri -- bergantung lebih dari 90 persen minyak mentah dari Timur Tengah dan lebih dari 10 persen untuk gas alam cair.
Dikutip dari Yomiuri Shimbun, wilayah produksi terkonsentrasi di sekitar Teluk Persia yang meliputi Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Kuwait. Mayoritas kapal tanker minyak besar yang menuju Jepang melewati Selat Hormuz, menjadikan jalur itu sangat penting bagi Jepang.
Meski ada rute ekspor alternatif seperti melalui jalur pipa Arab Saudi di sisi Laut Merah, jalur tersebut terbatas. Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung dalam waktu lama, dampak yang meluas tidak dapat dihindari.
Perusahaan energi besar Jepang mengatakan tidak akan ada dampak langsung terhadap distribusi produk minyak bumi. Meski demikian, kenaikan harga minyak mentah akan berdampak pada banyak sektor, memengaruhi harga bensin, tagihan listrik, dan biaya logistik.
Karena bensin dan minyak tanah juga digunakan untuk industri pertanian dan perikanan, itu juga akan berdampak pada kenaikan harga makanan.
