Kumparan Logo

Job Fair Dinilai Belum Efektif Tekan Pengangguran, Perlu Perbaikan Industri

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung dari berbagai latar belakang memadati Jakarta Job Fair di Gelanggang Mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa (15/4/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung dari berbagai latar belakang memadati Jakarta Job Fair di Gelanggang Mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa (15/4/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pameran bursa kerja atau job fair kembali digelar di sejumlah daerah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Ekonom dari CORE Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa meskipun job fair memang berfungsi sebagai tempat bertemunya pencari kerja dan perusahaan, pameran tersebut belum tentu dapat menjadi solusi langsung terhadap pengangguran di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah orang yang belum mendapatkan pekerjaan mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025 secara tahunan (year on year/yoy), bertambah 83,45 ribu dibandingkan Februari 2024. Sementara itu, jumlah seluruh angkatan kerja di Indonesia per Februari 2025 mencapai 153,05 juta. Dengan demikian, tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 4,76 persen per Februari 2025.

“Hanya saja memang job fair ini hanyalah pintu masuk awal bagi para pencari kerja untuk memasukkan lamaran kerja mereka dan setelahnya itu ada proses yang harus dilewati oleh pencari kerja,” ujar Yusuf saat dihubungi kumparan, Kamis, (29/5).

Namun, Yusuf menekankan job fair tidak sebenarnya menyerap tenaga kerja secara signifikan karena kegiatannya hanya tahap awal dari proses rekrutmen yang masih harus dilanjutkan dengan berbagai tahapan seleksi. Karena itu, meskipun jumlah pelamar membeludak, hanya sebagian kecil yang benar-benar berhasil mendapatkan pekerjaan. Perlu perbaikan di sektor industro agar angka pengangguran bisa menurun.

“Sayangnya memang di tahapan tes untuk penyaringan ini banyak yang kemudian bisa gagal dan akhirnya ini yang kemudian harus mencari pekerjaan lain,” jelas Yusuf.

video from internal kumparan

Yusuf menilai, membeludaknya job fair dalam beberapa waktu terakhir ini dikarenakan penurunan kinerja sektor lapangan usaha, seperti industri manufaktur.

“Ditambah lagi masalah skill set dan kemampuan pencari kerja yang selama ini belum memenuhi berbagai persyaratan dan akhirnya masalah-masalah seperti pengangguran atau pengangguran muda menjadikan permasalahan inklusivitas pencari kerja menjadi lebih sedikit atau lebih kecil,” jelas Yusuf.

Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai job fair yang efektif adalah job fair yang disertai dengan pelaksanaan walk-in interview. Ia menyoroti masih banyak perusahaan yang hanya membuka pendaftaran administrasi di lokasi job fair.

“Job fair efektif jika ada walk-in interview karena dapat mempersingkat waktu tunggu pencari kerja dalam mendapatkan kepastian kerja. Jika hanya pendaftaran administrasi, saya rasa akan jauh lebih efektif online job fair dibandingkan job fair secara offline,” kata Nailul.

Rusuh job fair di Cikarang. Foto: Instagram/@arifinilhammm04

Ia turut menekankan bahwa lonjakan jumlah pencari kerja di job fair mencerminkan kegagalan pemerintah dalam menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja secara efektif, sehingga tidak banyak membantu mengurangi tingkat pengangguran.

“Pertumbuhan ekonomi memang ada di angka 5 persen, tetapi penyerapan tenaga kerjanya terus berkurang. Dahulu 1 persen pertumbuhan ekonomi dapat menyerap tenaga kerja sebesar 400.000 tenaga kerja. Sekarang, 1 persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap sekitar 100.000 tenaga kerja saja,” jelas Nailul.

Nailul menambahkan, sebagian besar pekerja saat ini berada di sektor informal, menandakan menurunnya kualitas pekerjaan di tengah tantangan industri manufaktur. “Terlebih tenaga kerja yang terserap saat ini di sektor informal (sekitar 60 persen pekerja saat ini merupakan tenaga kerja informal),” pungkasnya.

Sebelumnya, job fair di Bekasi, Jawa Barat, diserbu lautan pelamar hingga ada peserta yang kelelahan pingsan. Hal tersebut ramai setelah adanya beberapa video memperlihatkan para pelamar berdesakan di area job fair.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) juga menggelar job fair pada 22-23 Mei 2025. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengungkapkan bahwa pada hari pertama saja tercatat 2.881 pencari kerja mendaftar langsung di lokasi, sementara 4.200 lainnya mengikuti melalui jalur daring.