Bisnis
·
15 September 2021 10:33
·
waktu baca 2 menit

Jokowi: 3-4 Tahun Lagi RI Jadi Produsen Utama Baterai hingga Kendaraan Listrik

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Jokowi: 3-4 Tahun Lagi RI Jadi Produsen Utama Baterai hingga Kendaraan Listrik (428130)
searchPerbesar
Presiden Jokowi. Foto: Youtube/Sekretariat Presiden
Presiden Jokowi melakukan groundbreaking pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang Bekasi, Rabu (15/9). Pabrik ini merupakan infrastruktur industri kendaraan listrik pertama yang dimiliki Indonesia.
ADVERTISEMENT
Dalam sambutannya, Jokowi mengungkapkan targetnya untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen utama kendaraan listrik. Termasuk fasilitas penunjang seperti baterai.
"Saya yakin 3-4 tahun ke depan, melalui manajemen yang baik, manajemen pengelolaan yang baik, Indonesia akan menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel seperti baterai lithium, baterai listrik, baterai kendaraan listrik," ujar Jokowi dalam acara groundbreaking yang disiarkan virtual, Rabu (15/9).
Optimismenya itu, didasari dari besarnya cadangan nikel yang Indonesia punya. Hilirisasi industri nikel, menurut Jokowi, bisa meningkatkan nilai tambah bijih nikel secara signifikan.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Jika diolah menjadi sel baterai, nilainya bisa meningkat 6-7 kali lipat. Dan jika menjadi mobil listrik akan meningkat lagi nilai tambahnya yaitu 11 kali lipat," ujar Jokowi.
Jokowi: 3-4 Tahun Lagi RI Jadi Produsen Utama Baterai hingga Kendaraan Listrik (428131)
searchPerbesar
Pengemudi saat melakukan pengisian di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Di sisi lain, hilirisasi ini juga secara otomatis diyakini bakal meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi. Khususnya untuk industri turunan yang menggunakan baterai seperti investasi motor listrik, bus listrik, hingga mobil listrik.
ADVERTISEMENT
Jokowi menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh dalam mengembangkan ekosistem baterai dan kendaraan listrik. Salah satu upaya pendukungnya yakni dengan kebijakan reformasi struktural untuk memberikan kepastian hukum dan kemudahan perizinan.
"Pemerintah juga terbuka atas berbagai inisiatif kerja sama dengan negara sahabat. Saya berharap kolaborasi dengan perusahaan Korea Selatan dengan Indonesia diperkuat," ujar Presiden Jokowi.