Jokowi: Kerangka Ekonomi Makro 2025 Harus Perhatikan Ketidakpastian Global
·waktu baca 2 menit

Presiden Jokowi meminta Kerangka Ekonomi Makro 2025 dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2025 yang dibahas dalam rapat sidang kabinet pada hari ini (26/2), harus memperhatikan situasi ketidakpastian ekonomi global. Beberapa negara seperti Jepang dan Inggris mengalami resesi.
“Terkait kerangka ekonomi makro 2025 kita harus memahami, mengikuti situasi dan ketidakpastian ekonomi global. Kita tahu beberapa negara sudah masuk ke resesi seperti Jepang, inggris yang baru saja masuk resesi itu,” kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/2).
Jokowi mengatakan, antisipasi yang dilakukan pemerintah dalam menyusun target pertumbuhan harus mencerminkan kehati-hatian. Namun, optimisme dan kredibilitas juga harus tetap dijaga.
“Lakukan penajaman fokus pemerintah pusat dan daerah dengan menyiapkan plan jika ada gejolak dan krisis,” ujar Jokowi.
Jokowi juga sempat menyinggung kebijakan fiskal pada tahun 2025, bahwa transformasi ekonomi telah dijalani selama 10 tahun terakhir. Sehingga kebijakan fiskal harus mendukung transformasi ekonomi.
“RKP dan kebijakan fiskal adalah jembatan untuk menjaga keseimbangan pembangunan dan mengakomodasi program-program presiden terpilih hasil Pilpres 2024,” ungkap Jokowi.
Jokowi juga menginstruksikan para menterinya untuk mengakomodasi rencana kerja pemerintah dan kebijakan fiskal 2025 terhadap program-program presiden terpilih hasil Pilpres 2024.
Selain KEM-PPKF disiapkan untuk mengantisipasi resesi ekonomi global, skema anggaran program makan siang dan susu gratis yang masuk APBN 2025, akan dibahas Presiden Jokowi pada hari ini, Senin (26/2).
Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sempat menuturkan makan siang gratis yang diusung pasangan Prabowo-Gibran ini masuk dalam pembahasan KEM-PPKF 2025.
