Kumparan Logo

Jokowi: Moneter dan Fiskal RI Rukun Berjalan Beriringan untuk Kendalikan Inflasi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas mengitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (27/11). Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
zoom-in-whitePerbesar
Petugas mengitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (27/11). Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan keadaan ekonomi Indonesia bisa terkendali dengan baik. Hal ini lantaran, baik dari kebijakan fiskal maupun moneter masih jalan beriringan tidak tumpang tindih.

“Moneter kita masih dalam posisi yang bisa dikendalikan,” ungkap Jokowi dalam pembukaan Investor Daily Summit 2022, Selasa (11/10).

Termasuk dalam mengatasi tingkat inflasi yang meningkat. Di mana, inflasi Indonesia di September 2022 berada di level 5,95 persen.

Menurut Kepala Negara, tidak ada negara yang melakukan seperti Indonesia untuk memerangi laju inflasi yakni dengan bersama-sama baik dari moneter (Bank Indonesia) dan fiskal (Kementerian Keuangan).

“Saya lihat dalam keseharian antara bank sentral BI dan Kemenkeu berjalan beriringan, berjalan rukun tidak saling tumpang tindih itu yang saya lihat, Komunikasi baik fiskal dan moneter bisa berjalan bersama-sama,” katanya.

Presiden Jokowi dalam acara Investor Daily Summit 2022, Selasa (11/10). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Dari sisi fiskal, dirinya juga mengatakan, tidak hanya pemerintah pusat saja yang turun tangan, namun juga pemerintah daerah yang sudah turut andil dengan menggunakan 2 persen dana transfer umum untuk mengatasi inflasi.

Hal tersebut jauh berbeda dengan negara lain yang cenderung mengandalkan kenaikan suku bunga bank sentral untuk menjinakkan inflasi.

“Inflasi biasanya dikendalikan dengan menaikkan suku bunga, bank sentral, pasti naikkan suku bunga untuk mengerem inflasi,” tambah Jokowi.

Misalnya saja, bank sentral Amerika Serikat (AS) yang sudah menaikkan suku bunga 3 bulan berturut-turut sebesar 75 basis poin (bps) untuk meredam tingginya inflasi di AS. Tercatat pada Agustus 2022, inflasi AS menyentuh 8,3 persen secara tahunan.

Bahkan, investor memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunganya sampai awal tahun depan. Sinyal tersebut diperkuat oleh Presiden Fed Chicago Charles Evans yang mengatakan pada hari Senin, bahwa pejabat Federal Reserve (The Fed) AS mengambil keputusan selaras dengan kebutuhan untuk menaikkan suku bunga kebijakan target menjadi sekitar 4,5 persen pada awal tahun depan.