Jokowi Tegaskan Ibu Kota Pindah untuk Pemerataan: Beban di Jakarta Sangat Padat
·waktu baca 2 menit

Dalam pembukaan sidang kabinet paripurna di IKN, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan kembali alasan pembangunan ibu kota di Kalimantan Timur. Ia mengatakan pembangunan itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi di provinsi tersebut.
"Dan kalau kita tahu salah satu alasan kenapa ibu kota pindah karena kita ingin pemerataan, karena kita tahu 58 persen GDP ekonomi itu ada di Jawa, sehingga kita ingin memeratakan untuk juga keluar Jawa mendapatkan perputaran ekonominya," kata Jokowi saat sidang kabinet perdana di IKN, Senin (12/8).
Selain itu, Jokowi menjelaskan kalau jumlah populasi di Pulau Jawa sudah mencapai angka 56 persen. Kondisi tersebut yang juga menjadi alasan lain ibu kota harus dipindahkan dari Jakarta ke Kalimantan Timur.
"Kemudian populasi, populasi di Jawa juga bebannya sudah sangat besar sekali 56 persen populasi itu ada di Pulau Jawa, ini yang juga menjadi sebuah pertimbangan bagi kita untuk memindahkan ibu kota, dan utamanya memang beban di ibu kota Jakarta memang sudah sangat padat sekali," ujar Jokowi.
Kepala Negara itu menegaskan IKN dibangun dengan mengusung konsep kota hijau dan ditopang teknologi, yang berbeda dengan kota lainnya.
"Nusantara dibangun dengan konsep forest city, kota hutan kota yang penuh dengan hijauan bukan kota beton atau bukan kota kaca. Juga smart city kota yang ditopang dengan teknologi dalam setiap aktivitas kotanya dan juga liveable city, kota yang nyaman ditinggalinya," tutur Jokowi.
Lebih jauh, Jokowi menuturkan bahwa IKN adalah masa depan. Ia mengatakan, tidak semua negara dapat membangun ibu kotanya dari awal.
"IKN adalah sebuah kanvas yang mengukir masa depan dan tak semua orang tak semua negara dan tak semua negara memiliki kesempatan memiliki kemampuan untuk membangun ibu kotanya yang dimulai betul-betul dari nol," terang Jokowi.
