Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
JP Morgan Sebut Ekonomi AS Menuju Resesi Imbas Tarif Impor Trump
5 April 2025 11:16 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
Perusahaan induk sekaligus konsultan jasa keuangan, JP Morgan Chase & Co memperkirakan ekonomi Amerika Serikat (AS) akan jatuh ke dalam resesi tahun ini setelah memperhitungkan kemungkinan dampak tarif yang diumumkan minggu ini oleh Presiden Donald Trump.
ADVERTISEMENT
"Kami sekarang mengharapkan PDB riil akan berkontraksi di bawah beban tarif, dan untuk setahun penuh (4Q/4Q) kami sekarang mencari pertumbuhan PDB riil sebesar -0,3 persen, turun dari 1,3 persen sebelumnya," ucap Kepala Ekonom Bank AS, Michael Feroli, pada hari Jumat (4/4).
Feroli bilang, kontraksi dalam aktivitas ekonomi diperkirakan bakal menekan pekerja dan seiring waktu malah meningkatkan persentase pengangguran menjadi 5,3 persen.
Presiden Donald Trump pada hari Rabu (2/4) mengumumkan tentang tarif impor kepada negara mitra dagang AS di seluruh dunia. Keputusan ini membuat indeks S&P 500 saham AS ke level terendah dalam 11 bulan hingga kapitalisasi pasar anjlok USD 5,4 triliun dari nilai pasar hanya dalam dua sesi perdagangan.
Pada hari Jumat (4/4), para ekonom Citi memangkas perkiraan untuk pertumbuhan AS tahun ini hanya menjadi 0,1 persen, dan para ekonom UBS menurunkan perkiraan menjadi 0,4 persen.
ADVERTISEMENT
"Kami memperkirakan impor AS dari seluruh dunia turun lebih dari 20 persen di atas cakrawala perkiraan kami, sebagian besar dalam beberapa kuartal berikutnya, membawa impor sebagai bagian dari PDB kembali ke tingkat pra-1986," kata Kepala Ekonom AS UBS, Jonathan Pingle.
Perkiraan Stagflasi
Feroli mengharapkan Federal Reserve (The Fed) untuk mulai memotong suku bunga acuannya pada bulan Juni mendatang dan melanjutkan dengan pemotongan suku bunga pada setiap pertemuan berikutnya hingga Januari, membawa patokan ke kisaran 2,75-3 persen dari kisaran 4,25-4,5 persen saat ini.
Pemotongan tersebut akan terjadi, meski ada kenaikan dalam ukuran kunci inflasi yang mendasari menjadi 4,4 persen pada akhir tahun nanti, dari level saat ini sebesar 2,8 persen.
"Jika direalisasikan, perkiraan stagflasi kami akan menghadirkan dilema bagi pembuat kebijakan Fed," tulis Feroli.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, di hari Jumat (4/4) Ketua The Fed Jerome Powell mengungkapkan rasanya tidak perlu terburu-buru untuk membuat penyesuaian suku bunga.
Pernyataannya ini mengikuti rilis laporan ketenagakerjaan bulanan terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS, yang menunjukkan perekrutan yang kuat pada bulan Maret 2025 bersama dengan peningkatan di tingkat pengangguran, menjadi 4,2 persen.