Kumparan Logo

Jumlah BUMN yang Sudah Gabung Danantara Kini Bertambah Jadi 1.050

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kantor baru Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Foto: Instagram/ @presidenrepublikindonesia
zoom-in-whitePerbesar
Kantor baru Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Foto: Instagram/ @presidenrepublikindonesia

Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengakui saat ini jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau State-Owned Enterprise (SOE) terus bertambah.

Managing Director/Chief Economist Danantara, Reza Yamora Siregar, mengatakan mulanya pada saat dia didapuk menjadi bagian dari Danantara, jumlah BUMN hanya sekitar 700 hingga 800. Namun kini diperkirakan jumlahnya melampaui 1.000.

“Pada waktu kami datang, ada sekitar estimasi 700-800 SOE BUMN. Setiap bulan kami analisa, kelihatannya makin lama makin banyak. Sekarang estimasi kami sekitar hampir 1.050 SOE,” tutur Reza dalam Seminar di Kantor Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Jakarta, Senin (11/8).

Reza mengatakan, saat ini jumlah BUMN terus berkembang dengan adanya anak hingga cicit usaha. Sementara Danantara tengah dalam agenda untuk konsolidasi BUMN.

Dia melanjutkan, Danantara perlu mengetahui jumlah BUMN, aset, liabilitas, hingga utang sebagai data dasar. Menurut dia, Danantara harus bersinergi dengan BUMN yang ada.

“Misalnya, apakah kita membutuhkan 14-15 asuransi? Apakah tidak cukup dengan satu asuransi jiwa, satu asuransi umum, satu asuransi syariah? Bagaimana dengan karya-karya kita? Hutama Karya, Waskita Karya tadi, apakah perlu kita konsolidasi?,” tutur Reza.

instagram embed

Reza mengakui saat ini banyak BUMN yang bergerak menggeluti usaha di luar aktivitas utama bisnis atau bidang yang seharusnya.

Dia menyoroti banyaknya BUMN yang memiliki usaha seperti rumah sakit, properti hingga perhotelan. Danantara kemudian akan menyinergikan BUMN-BUMN tersebut dalam satu klaster.

“Nah kemudian baru kita memperkuat yang namanya model bisnisnya. Kami inginnya dari sekitar 1.000 jadi sekitar 200. Tapi 200 powerful SOE, 200 competitive SOE yang mempunyai daya saing teknologi dan human resource yang mumpuni,” tuturnya.

Menurut dia setelah konsolidasi ini dilakukan, barulah Danantara akan mengembangkan transformasi BUMN lebih jauh, seperti soal penciptaan nilai.

“Kemudian kita kembangkan lagi transformasinya. Desain ulang mungkin di beberapa tempat model bisnisnya. Tata kelolanya mesti kita kuatkan, baru masuk ke tadi penciptaan nilai,” jelasnya.