Jumlah PHK di Singapura Tembus 4.500 Orang, Level Tertinggi Sejak Pandemi

Jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di Singapura meningkat pada kuartal II 2026. Sebanyak 4.500 pekerja kehilangan pekerjaan sepanjang April-Juni 2026, angka ini sekaligus menjadi total PHK tertinggi sejak pandemi Covid-19.
Dikutip dari Bloomberg, Jumat (31/7), data Kementerian Ketenagakerjaan Singapura (Ministry of Manpower/MOM) menunjukkan jumlah PHK pada kuartal II 2026 meningkat lebih dari 17 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal IV 2020, saat sebanyak 5.640 pekerja terdampak PHK.
“Lonjakan PHK terkonsentrasi di beberapa sektor yang berorientasi ke luar negeri, terutama didorong oleh restrukturisasi bisnis,” tulis Kementerian Ketenagakerjaan Singapura dalam sebuah keterangan, dikutip dari Bloomberg, Jumat (31/7).
Meski demikian, pemerintah menilai kondisi pasar tenaga kerja Singapura secara umum masih cukup kuat. Jumlah lapangan kerja tetap bertambah sekitar 10.700 posisi pada kuartal II, sementara tingkat pengangguran bertahan di level 2 persen.
Optimisme dunia usaha juga mulai membaik. Jumlah perusahaan yang berencana merekrut pekerja dalam tiga bulan ke depan meningkat 43,9 persen pada Juni, naik dari 40,6 persen pada Mei.
Dari sisi dunia usaha, Departemen Statistik Singapura menyebut perusahaan di sektor jasa memperkirakan kondisi bisnis akan lebih baik pada paruh kedua 2026.
Sementara itu, Badan Pengembangan Ekonomi Singapura (EDB) mencatat perusahaan di bidang precision engineering menjadi yang paling optimistis, didorong oleh kuatnya investasi global di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Sebaliknya, perusahaan di sektor petrokimia dan minyak bumi justru memperkirakan kondisi bisnis akan lebih tertekan. Gangguan pasokan dari Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor yang membebani industri tersebut.
Dari sisi ekonomi makro, Singapura mencatat pertumbuhan sebesar 5,7 persen pada kuartal II 2026, lebih tinggi dari proyeksi pemerintah untuk sepanjang tahun.
ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memperkirakan ekonomi Singapura akan tumbuh 4,8 persen pada 2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5 persen pada 2025.
Survei kelompok industri Singapura pada April lalu menunjukkan lebih dari sebagian perusahaan di Singapura khawatir terhadap kenaikan biaya tenaga kerja. Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) juga sebelumnya mengingatkan permintaan tenaga kerja berpotensi melambat tahun ini seiring ketidakpastian ekonomi global.
