Kumparan Logo

Jumlah Turis Asing di Bali Diproyeksi Naik, Pulih ke Posisi Sebelum COVID-19

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Turis Asing di Bali. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Turis Asing di Bali. Foto: Shutter Stock

Jumlah wisatawan mancanegara atau turis asing di Bali diperkirakan akan meningkat tahun ini. Angkanya bakal lebih tinggi daripada tahun-tahun saat terjadi pandemi COVID-19.

Lonjakan ini disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani. Hariyadi mengungkap bahwa jumlah wisatawan mancanegara di Bali berpotensi meningkat seperti jumlah wisatawan mancanegara ke Bali pada 2019 sebelum pandemi.

“Bali itu kunjungan wisatawan mancanegaranya tahun lalu 5,2 juta orang, tahun 2019 kan 6 juta orang. Tahun ini diperkirakan naik, ke posisi 2019,” ungkapnya.

Selain itu, harga hotel bintang lima di Bali juga mengalami peningkatan yang cukup bagus. Hariyadi mengungkap bahwa kenaikan berkisar 10 persen sampai 20 persen.

"Harga hotel yang bintang 5 juga tercatat kenaikan cukup bagus. Berkisar 10 persen sampai 20 persen. Lumayan," lanjutnya.

Menurut Hariyadi, peningkatan harga tersebut dapat tercapai akibat permintaan wisatawan mancanegara yang cukup tinggi.

"Saya dilaporkan beberapa teman di Bali, beberapa hotel di Ubud yang bintang 5 dari di 2019 harganya USD 600 sampai 700 per hari, sekarang sudah di atas USD 1.000 per hari," jelas Hariyadi.

Sejumlah wisatawan membawa papan selancar berjalan menuju ke tengah laut saat berlibur di Pantai Kuta, Badung, Bali, Senin (25/9/2023). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto

Atas peningkatan ini, Hariyadi berharap Bali dapat meningkatkan segmen pasar yang diincar. Di samping itu, perlu ada kesepakatan antara pemerintah dan pelaku usaha di Bali dalam menentukan arah ekonomi pariwisata di sana.

“Jadi untuk Bali ini memang harus ada kesepakatan bersama juga antara pemerintah dan pelaku usaha mau membawa Bali ini ke mana nih? Mau lebih ke quality tourism atau mau in between antara quality dengan mass tourism?,” kata Hariyadi.

Hariyadi menyebut permasalahan yang saat ini terjadi di Bali yaitu kemacetan dan sampah adalah akibat pertumbuhan pariwisata yang tidak terkontrol. Maka dari itu menurutnya arah perkembangan ekonomi pariwisata di Bali perlu dipikirkan.

“Satu masalah macet, dua masalah sampah. Otomatis ya kalau tidak terkontrol pertumbuhan pariwisatanya yang datang dan juga lebih banyak populasinya tapi tidak mempunyai nilai tambah pasti seperti itu. Jadi harus dipikirkan, Bali ini mau bagaimana?,” pungkasnya.