Kadin Kritik Jaringan Internet di Indonesia: Harganya Mahal Tapi Lemot
·waktu baca 2 menit

Indonesia memiliki potensi besar di bidang ekonomi digital. Jumlah penduduk yang banyak dan penetrasi pengguna smartphone yang tinggi membuat Indonesia menjadi market terbesar bagi pasar online shopping.
Namun di tengah potensi besar tersebut, Indonesia juga menghadapi sejumlah hambatan. Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan biaya internet di Indonesia masih mahal.
"Tapi biaya internet di Indonesia masih yang termahal di antara negara ASEAN lainnya. Hanya orang-orang dengan kemampuan finansial yang cukup yang bisa mengakses internet. Ini menghambat pembangunan ekonomi digital sebuah negara," ujar Shinta dalam G20 Finance Track Side Event: Casual Talk On Digital Payment Innovation of Banking, Senin (14/2).
Dengan biaya yang mahal, Shinta mengatakan kualitas jaringan internet di Indonesia pun masih buruk. "Baru sekitar 177 mbps. Ini masih rendah dibanding dengan kecepatan internet di negara lain," sambungnya.
Di sisi lain, untuk mengembangkan ekonomi digital, Shinta menilai bahwa pemerintah perlu melakukan terobosan pada sistem pembayaran. Terutama di wilayah-wilayah terpencil di Indonesia agar tidak terjadi kesenjangan dengan penduduk kota. Sebab di perkotaan, jumlah digital users naik signifikan.
"National payment network di rural area juga butuh di upgrade secara signifikan," ujarnya.
Sebelumnya, Shinta juga sempat menyinggung kesenjangan transaksi digital. Kesenjangan ini menurut Shinta terjadi secara meluas tidak hanya pada ketersediaan infrastruktur transaksi saja tapi juga termasuk kesempatan untuk memiliki akses internet bahkan smartphone.
Kondisi ini juga diperburuk dengan fakta bahwa populasi Indonesia masih didominasi oleh masyarakat yang unbankable. Jumlahnya bahkan mencapai 66 persen dari total populasi di Indonesia.
"Mereka belum mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengakses layanan finansial seperti payment, saving, kredit dsn asuransi. Ini membutuhkan ground breaking inisiatif untuk mendorong inklusi finansial. Ini adalah sejumlah tantangan yang masih kita hadapi," ujarnya.
