Kadin Sarankan UMKM Pakai PayLater untuk Modal Usaha Dibanding Pinjam Rentenir
·waktu baca 2 menit

Transaksi layanan beli sekarang bayar nanti atau PayLater dinilai dapat membantu perekonomian para pelaku bisnis UMKM. Dengan fitur PayLater di e-commerce, para pelaku usaha mikro tak perlu lagi kesulitan mencari modal usaha.
Wakil Ketua Kadin Bidang Kewirausahaan, Dewi Meisari, mengatakan bahwa PayLater sangat bermanfaat untuk pelaku usaha yang memerlukan modal besar tanpa harus meminjam kepada rentenir atau menggunakan layanan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"PayLater ini bagi saya sangat baik, teknologi e-commerce akan banyak membantu. PayLater membuat modal usaha 2 juta bisa diubah jadi 150 ribu. Jadi bayar cicilan dari keuntungan itu," katanya dalam acara urban forum focus discussion, Jakarta, Selasa (7/3).
Dewi menjelaskan PayLater lebih mudah dan murah dibandingkan model pinjaman modal lainnya. Selain bunga kredit yang besar hingga 20 persen dari pinjaman, cicilan dari rentenir atau KUR juga sulit didapat dengan banyaknya persyaratan dan prosedur yang harus dijalani.
"Coba KUR? Mengisi form diwawancara, suruh tunggu 3 hari taunya enggak dapet. Nah coba mereka beralih ke transaksi digital, kan ga perlu minjem sampe bunga 20 persen per bulan," ujar Dewi.
Meski begitu, ia mengungkapkan bahwa pelaku usaha mikro yang menggunakan paylater sebagai modal usaha masih minim. Berdasarkan hasil survei yang ia lakukan kepada lebih 1.000 responden, hanya 2 persen yang sudah menggunakan paylater untuk membeli produk jual.
"Masih sangat sedikit. Berdasarkan hasil survei kami itu yang pakai fitur paylater 1-2 persen dari UMKM yang disurvei sekitar 1000 lebih responden. Lebih tinggi pakai kripto untuk investasi," ujar Dewi.
Sementara itu, merujuk laporan Research and Market, nilai pasar layanan PayLater di Indonesia telah mencapai USD 1,5 miliar pada 2022, dan akan mengalami pertumbuhan hingga USD 9,2 miliar atau mencapai Rp 139 triliun (kurs Rp 15.200 per dolar AS) pada 2028 dengan compounded annual growth rate (CAGR) 29,2 persen.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memprediksi, pengguna PayLater akan meningkat hingga 200 persen di 2024 dibandingkan tahun lalu.
Menurut dia, masih ada 47 juta penduduk Indonesia yang berstatus underbank atau sudah memiliki rekening bank tapi belum diberikan fasilitas pinjaman kredit yang bisa disasar oleh penyedia PayLater.
"Saya lihat ke depan sampai 2024, paylater ini akan meningkat dua kali lipat atau 200 persen dari kondisi eksisting dari tahun 2022," ujar Bhima dalam keterangannya, Rabu (22/2).
