Kumparan Logo

Kakao Pernah Berjaya di RI Pada 2006, Kini Ditinggalkan Petani

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Buah kakao di Dusun Kakao Banyuwangi (Foto: Joseph Pradipta/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Buah kakao di Dusun Kakao Banyuwangi (Foto: Joseph Pradipta/kumparan)

Siapa tak suka coklat? Produksi olahan dari biji kakao ini digemari banyak orang di seluruh dunia. Apalagi, cokelat mengandung zat dopamine yang bisa meningkatkan hormon bahagia bagi penikmatnya.

Indonesia adalah salah satu produsen kakao terbesar dunia di bawah Ghana dan Pantai Gading. Namun, produksi kakao Indonesia terus merosot. Pada 2017 lalu, produksi di dalam negeri hanya sekitar 280 ribu ton sehinga Indonesia harus mengimpor 200 ribu ton kakao untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Zulhefi Sikumbang, mengatakan kakao pernah berjaya di Indonesia pada 2006-2007. Waktu itu, produksi kakao Indonesia menembus 700 ribu ton.

"Itu terjadi antara tahun 2006 atau 2007 produksinya mencapai 650 ribu ton sampai 700 ribu ton per tahunnya," kata Zulhefi kepada kumparan (kumparan.com), Senin (12/2).

Capaian itu berasal dari tiga wilayah penghasil kakao terbesar, yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan. Sayangnya, setelah 2006 produksinya terus turun hingga tinggal 280 ribu ton pada 2017.

Harga jual yang terlalu rendah membuat petani kakao kesulitan membeli pupuk. "Kalau satu petani rata-rata punya satu hektare yang hanya mampu produksi 400 kg per tahun dengan nilai jual Rp 20.000/kg maka cuma dapat Rp 8 juta. Mana cukup beli pupuk?" ungkapnya.

Akibatnya, banyak petani kakao yang beralih ke tanaman lain. "Penurunan dari tahun ke tahun lantaran banyak petani kakao yang pindah menanam komoditas lain seperti sawit, karet, dan jagung yang lebih mudah dan ekonomis," lanjutnya.

Jika terus seperti ini, kata Zulhefi, dalam dua tahun ke depan produksi kakao akan terus turun menjadi 200 ribu per ton per tahun, impor terus bertambah untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri.

"Tahun lalu pemerintah impor 200 ribu ton. Tahun depan mungkin bisa naik jadi 250 ribu ton karena kebutuhan pabrik 800 ribu ton," katanya.