Kumparan Logo

Kalbe Farma Bidik Kontribusi Ekspor Double Digit Tahun Ini

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gedung kantor PT Kalbe Farma Tbk. Foto: Kalbe
zoom-in-whitePerbesar
Gedung kantor PT Kalbe Farma Tbk. Foto: Kalbe

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir masih menjadi tantangan bagi perusahaan. Direktur Utama Kalbe Farma, Kartika Setiabudy, menyatakan hal tersebut terjadi karena biaya produksi perusahaan masih dipengaruhi oleh penggunaan bahan baku impor.

Sehingga laba kotor dan margin menjadi tertekan. Oleh karena itu, meningkatkan kontribusi bisnis ekspor merupakan salah satu cara Kalbe Farma mengelola dampak volatilitas nilai tukar.

“Bagaimana tahun ini ekspor kita memberikan kontribusi sekitar 7 persen terhadap overall penjualan KBLF dan kami mengharapkan pertumbuhan ekspor ini kita harapkan bisa tumbuh terus di kisaran double digit,” kata Kartika dalam konferensi pers Pubex Live 2026 yang diselenggarakan secara daring, Jumat (11/9).

Dengan pertumbuhan tersebut, Kartika menilai kontribusi ekspor diharapkan meningkat secara bertahap terhadap total penjualan perusahaan. Dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan ekspor Kalbe Farma disebut telah berada di kisaran double digit. Namun, kontribusinya terhadap total penjualan masih meningkat secara bertahap karena basis bisnis ekspor masih relatif kecil.

“Terutama kita melakukan ekspor ke pasar regional di kawasan Asia Tenggara dengan beberapa negara tetangga yang merupakan tujuan ekspor utama kami,” sebut Kartika.

Kartika juga berharap, peningkatan ekspor dapat berfungsi sebagai natural hedging untuk membantu perusahaan mengelola dampak volatilitas nilai tukar rupiah. “Ke depannya kita akan terus mendorong bagaimana kita bisa meningkatkan kontribusi ekspor kita dengan membawa produk-produk yang tepat untuk negara-negara,” lanjut Kartika.

Selain ekspor produk jadi, Kalbe Farma mulai memperkuat kemampuan produksi bahan baku obat melalui investasi secara bertahap. Kartika menjelaskan, beberapa produk biologis telah diproduksi secara lokal, sementara perusahaan juga membentuk joint venture dengan perusahaan asal China untuk memproduksi sejumlah bahan baku obat yang saat ini lebih ditujukan untuk pasar ekspor.

“Kami sebagai partner minority juga berpartisipasi dalam joint venture ini untuk memproduksi beberapa bahan baku obat yang memang saat ini lebih dikhususkan untuk pasar ekspor,” sebut Kartika.

Tekanan terhadap Margin Diproyeksi Lanjut Sepanjang 2026

Kemudian, Kartika memperkirakan tekanan terhadap margin masih akan berlanjut sepanjang 2026. Meskipun rupiah belakangan mulai menguat secara fundamental, dampak dari persediaan atau inventory membuat perusahaan belum melihat adanya perbaikan margin yang signifikan hingga akhir tahun.

“Pelemahan rupiah ini tentunya berdampak cukup besar terhadap laba kotor atau gross profit kami karena biaya produksi sangat dipengaruhi dengan bahan baku impor, sehingga pelemahan rupiah ini merupakan suatu tantangan untuk Kalbe,” lanjut Kartika.

Kartika pun membeberkan Kalbe Farma melakukan sejumlah strategi, dari menaikkan harga secara selektif untuk beberapa produk konsumen hingga meninjau ulang kembali anggaran belanja modal atau capex di tahun 2026.

“Dan dalam jangka panjang kita juga akan terus melakukan strategi portofolio untuk mengelola portofolio kami ke arah-arah produk yang memiliki margin lebih baik,” imbuh Kartika.

Kalbe Farma membukukan penjualan sebesar Rp 19,47 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 14,04 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan penjualan Rp 17,07 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan segmennya, penjualan obat resep mencapai Rp 5,30 triliun, produk kesehatan Rp 2,70 triliun, nutrisi Rp 4,26 triliun, serta distribusi dan logistik sebesar Rp 7,20 triliun sepanjang enam bulan pertama 2026.

Namun, pertumbuhan penjualan tersebut diikuti kenaikan beban pokok penjualan sebesar 20,71 persen yoy menjadi Rp 12,16 triliun per Juni 2026, dari Rp 10,07 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, beban penjualan Kalbe Farma meningkat menjadi Rp 3,85 triliun pada Januari-Juni 2026, dibandingkan Rp 3,58 triliun pada periode yang sama 2025. Kenaikan beban tersebut ini turut menekan laba bersih Kalbe Farma pada semester I 2026.