Kasus 'Bitcoin Hantu' USD 40 M Guncang Korsel, Otoritas Periksa Platform Bithumb
·waktu baca 3 menit

Otoritas Korea Selatan tengah menyelidiki bursa kripto Bithumb terkait insiden distribusi 'Bitcoin hantu' senilai sekitar USD 40 miliar akibat kesalahan sistem internal. Peristiwa ini memicu kekhawatiran serius atas lemahnya pengendalian internal di industri aset digital.
Penyelidikan dilakukan setelah Bithumb pada Jumat (6/2/2026) secara keliru mengkreditkan saldo akun nasabah dengan Bitcoin dalam jumlah besar, alih-alih hanya 2.000 won per orang sebagaimana program promosi yang telah disetujui.
Menurut Financial Services Commission (FSC), kesalahan tersebut terjadi akibat input karyawan yang memasukkan hadiah dalam bentuk Bitcoin, bukan mata uang won. Sementara itu, Financial Supervisory Service (FSS) menyatakan telah melakukan inspeksi langsung di Bithumb dan akan membuka penyelidikan resmi apabila ditemukan pelanggaran hukum.
“Ini memang hanya kesalahan input data virtual, namun faktanya transaksi tersebut benar-benar dieksekusi,” ujar Gubernur FSS Lee Chan-jin dalam konferensi pers, dikutip dari Bloomberg, Selasa (9/2).
Dalam waktu sekitar 20 menit sebelum kesalahan disadari, tercatat sebanyak 620.000 'Bitcoin hantu' senilai sekitar USD 40 miliar muncul di saldo ratusan akun pengguna. Sejumlah nasabah sempat menjual aset tersebut, sehingga sekitar 1.788 Bitcoin diperdagangkan di platform.
Bithumb menyatakan tidak ada Bitcoin yang benar-benar keluar dari sistem kustodi, namun pembayaran kepada pengguna sempat dilakukan. Hingga akhir pekan, perusahaan mengeklaim telah memulihkan sekitar 93 persen nilai transaksi tersebut dalam bentuk won atau aset kripto lain, sementara sisa kekurangan ditutup menggunakan aset internal perusahaan.
Insiden ini juga menekan harga Bitcoin di platform Bithumb. Dalam kurun waktu sekitar 10 menit, harga Bitcoin di bursa kripto terbesar kedua di Korea Selatan itu sempat anjlok lebih dari 15 persen dan langsung memicu aksi jual panik di kalangan pengguna.
CEO Janji Kompensasi 10 Persen
Chief Executive Officer Bithumb Lee Jae-won juga mengatakan perusahaan akan memberikan kompensasi tambahan sebesar 10 persen kepada pengguna yang mengalami kerugian akibat gangguan tersebut.
Bithumb juga tengah menerapkan sejumlah langkah korektif untuk memperketat pengawasan distribusi aset, termasuk penerapan mekanisme persetujuan berlapis dalam penyaluran hadiah.
“Kami akan melengkapi proses-proses yang sebelumnya belum tersedia dengan memastikan seluruh persetujuan dilakukan melalui dua tahap atau lebih, guna mencegah insiden serupa terulang,” kata manajemen Bithumb dalam pernyataan resminya.
Risiko Sistem Pembukuan Internal
Pengamat menilai insiden tersebut menyoroti risiko struktural bursa kripto terpusat yang mengandalkan pembukuan internal, bukan pencatatan langsung di blockchain. Sistem ini memungkinkan transaksi berlangsung cepat, namun membuka celah kesalahan besar apabila pencatatan internal tidak selaras dengan kepemilikan aset riil bursa.
Pada kuartal III 2025, Bithumb tercatat hanya memiliki 175 Bitcoin di neraca perusahaan, sementara total aset klien yang dikelola mencapai 42.619 Bitcoin.
Juru bicara Partai Demokrat yang berkuasa, Kim Jiho, mengatakan insiden Bitcoin hantu ini dengan jelas menunjukkan bahwa masalahnya bukan semata kesalahan input.
"Melainkan adanya kelemahan struktural dalam pengendalian internal dan sistem pengelolaan buku besar di bursa kripto. Ini adalah persoalan serius yang tidak bisa dipandang remeh," katanya.
Regulator Korea Selatan pun menggelar rapat darurat dan mendorong penguatan regulasi aset digital. Aliansi bursa kripto domestik juga berencana melakukan audit pengendalian internal di seluruh anggotanya. Pemerintah menilai perlu adanya standar pengawasan setara lembaga keuangan konvensional guna mencegah kejadian serupa terulang.
