Kumparan Logo

Kasus Penipuan di Singapura Terus Naik, Kerugian Tembus Rp 3,7 T

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pelaku penipuan yang mengambil data nasabah dengan cara carding. Foto: Alexander Geiger/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelaku penipuan yang mengambil data nasabah dengan cara carding. Foto: Alexander Geiger/Shutterstock

Kepolisian Singapura melaporkan kasus penipuan di Singapura terus meningkat pada semester I 2023, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Total kerugian ditaksir mencapai SGD 334,5 juta atau Rp 3,77 triliun.

Dikutip dari Channel News Asia, Jumat (15/9), total kerugian tersebut turun 2,2 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, jumlah kasus penipuan meningkat sebesar 64,5 persen, menurut data yang dirilis Kepolisian Singapura.

Jumlah keseluruhan kasus penipuan di Singapura meningkat dari 13,576 pada semester I 2022, menjadi 22,339 pada semester I 2023. Sebanyak 55 persen persen kasus mengakibatkan kerugian kurang atau sama dengan SGD 2.000.

Orang dewasa muda berusia 20-39 tahun adalah kelompok yang paling rentan ditipu dan mencakup lebih dari separuh jumlah total korban. Sebagian besar adalah korban penipuan e-commerce, penipuan pekerjaan, dan penipuan phishing.

Sementara lima metode teratas yang digunakan penipu untuk mendekati korban adalah melalui platform pengiriman pesan seperti WhatsApp dan Telegram, media sosial, panggilan telepon, platform belanja online, dan SMS.

Jumlah total kasus penipuan dan kejahatan dunia maya (cybercrime) juga meningkat hampir 70 persen menjadi 24,525 kasus pada semester I 2023, dari 14,481 kasus pada periode yang sama tahun 2022.

Kepolisian Singapura juga menyoroti penipuan berbasis malware yang melibatkan pengguna perangkat Android yang menjadi lebih umum dalam beberapa bulan terakhir.

Lebih dari 750 kasus serupa dilaporkan pada semester I 2023, dengan total kerugian setidaknya berjumlah SGD 10 juta. 11 kasus melibatkan penarikan tabungan Central Provident Fund secara tidak sah, dengan kerugian bersih sekitar SGD 130.000.

embed from external kumparan

Jenis Penipuan Teratas

Jenis penipuan terbesar di Singapura, mencakup 83,8 persen dari seluruh kasus yang dilaporkan, adalah penipuan pekerjaan, penipuan e-commerce, penipuan panggilan teman palsu, penipuan phishing, dan penipuan investasi.

Penipuan pekerjaan menjadi kasus paling banyak terjadi yaitu 5.737 kasus atau 25,7 persen dari total kasus penipuan yang dilaporkan. Jumlah kasus untuk semua jenis penipuan ini meningkat secara keseluruhan dibandingkan semester I 2022.

Di antara 10 jenis penipuan teratas, penipuan yang melibatkan peniruan identitas pejabat pemerintah menghasilkan kerugian rata-rata tertinggi yakni SGD 116.000, diikuti oleh penipuan investasi sekitar SGD 60.000.

Sementara penipuan e-commerce dan penipuan phishing memiliki rata-rata kerugian yang lebih rendah, masing-masing sekitar SGD 1.600 dan SGD 2.400. Penipu berperan sebagai pejabat pemerintah seperti polisi atau Kementerian Tenaga Kerja dalam varian penipuan phishing.

Mereka akan mendekati korban melalui telepon, sebagian besar melalui panggilan video atau suara WhatsApp, dan meyakinkan mereka untuk memberikan data perbankan, kata sandi satu kali, atau data pribadi mereka. Mereka kemudian akan menggunakan rincian ini untuk menyedot dana dari rekening bank korban.

com-Ilustrasi Kejahatan Siber Foto: Shutterstock

Upaya Kepolisian Melawan Penipuan dan Kejahatan Siber

Kepolisian Singapura mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan lembaga pemerintah dan pemangku kepentingan sektor swasta untuk memperkuat langkah-langkah intervensi penipuan untuk meminimalkan kerugian korban.

Polisi juga memberikan informasi terkini mengenai upayanya memerangi penipuan dan kejahatan dunia maya. Anti-Scam Command yang dibentuk pada Maret 2022, membekukan lebih dari 9.000 rekening bank dan memulihkan sekitar SGD 50,8 juta hasil penipuan pada semester I 2023.

Staf dari enam bank serta Badan Teknologi Pemerintah (GovTech) juga dikerahkan untuk bekerja di Anti-Scam Command untuk mempercepat respons terhadap kasus penipuan dan menandai aktivitas tidak biasa di akun Singpass.

Pada semester I 2023, Anti-Scam Command bekerja dengan staf perbankan untuk mengidentifikasi lebih dari 800 korban yang tidak menaruh curiga, mencegah potensi kerugian lebih dari SGD 5 juta.

Selama periode tersebut, Anti-Scam Command bersama Scam Strike Teams di tujuh divisi kepolisian, melakukan 12 operasi penegakan anti-penipuan di seluruh kawasan, menyebabkan lebih dari 4.700 penipu diselidiki.

Adapun Kepolisian Singapura telah merilis undang-undang baru untuk memberi polisi lebih banyak wewenang bertindak lebih efektif terhadap penipu, serta mereka yang menjual rincian Singpass kepada penipu. Aturan itu baru akan berlaku pada akhir tahun ini.