Kata Ekonom soal Simpanan Emas Warga RI Capai 1.800 Ton

Jumlah emas yang dimiliki masyarakat dan masih disimpan secara pribadi, termasuk yang di bawah bantal, mencapai sekitar 1.800 ton saat ini. Nilainya, menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, sekitar USD 252 miliar atau Rp 4.470 triliun (kurs Rp 17.694).
Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, tingginya angka kepemilikan emas masyarakat Indonesia tersebut sebagai bentuk kekayaan rumah tangga yang selama ini berfungsi sebagai bantalan ketahanan finansial masyarakat.
“Bahkan dalam kondisi ketidakpastian, emas selama ini menjadi salah satu lapisan perlindungan kekayaan rumah tangga Indonesia,” ucap Fakhrul dalam keterangan yang diterima kumparan, Sabtu (22/8).
Meski demikian, Fakhrul menekankan adanya biaya peluang yang terbuang jika nilai kekayaan yang begitu besar tersebut terus dibiarkan mengendap sebagai aset pasif di luar ekosistem keuangan.
“Persoalannya bukan emasnya, tetapi perputarannya. Sebuah perekonomian tidak hanya membutuhkan kekayaan, ia juga membutuhkan kekayaan yang dapat bekerja,” lanjut Fakhrul.
Ia menjelaskan, emas memang instrumen penyimpan nilai yang andal. Namun, fisik emas yang hanya disimpan mandiri tidak dapat secara langsung berubah menjadi penyaluran kredit, modal usaha, pembiayaan investasi, maupun dana kegiatan produktif.
Fakhrul menyarankan arah kebijakan pemerintah tidak perlu berfokus pada pengurangan minat warga dalam mengoleksi emas, melainkan menyediakan sarana agar aset tersebut memperoleh nilai tambah secara ekonomi.
Kapan Investasi Emas Mulai Optimal Menghasilkan Cuan?
Dari sisi pengelolaan, perencana keuangan Mike Rini menilai efektivitas investasi emas sebenarnya sangat bergantung pada jangka waktu kepemilikannya, mengingat karakter instrumen ini tidak menghasilkan cash flow harian atau bulanan.
“Lagi pula ada biaya transaksi lho, kalau kita jual beli secara simultan gitu dalam jangka waktu dekat gitu mingguan, bulanan, itu belum untung emasnya, karena ada biaya transaksi lagi, ada spread jual beli harga jual beli emas,” ucap Mike saat dihubungi kumparan.
Mike menerangkan, untuk jangka menengah antara dua hingga lima tahun, peluang pertumbuhan investasi emas dinilai mulai membaik. Menurut Mike, durasi simpan tiga hingga lima tahun ideal untuk menghasilkan imbal hasil di atas tingkat inflasi, terlebih jika berada dalam kondisi ketidakpastian ekonomi atau tren penurunan suku bunga acuan.
“Kalau pun normal gitu maka untuk durasi holding emasnya itu yang ideal itu memang di atas 3 tahun sampai 5 tahun. Itu masih memberikan opportunity return on investment yang baik,” tutur Mike.
Ia pun menggambarkan rata-rata imbal hasil emas bergerak yang sejalan dengan tingkat inflasi. Untuk kondisi saat ini, imbal hasilnya diperkirakan berada di kisaran 4,6 persen per tahun di luar lonjakan harga tertentu. Namun, dalam rentang waktu lima hingga 10 tahun, imbal hasil emas diasumsikan dapat berada sedikit di atas angka inflasi.
“Apakah dia memberikan cash flow? Tidak,” sebut Mike.
Sementara untuk instrumen investasi lain, ia membandingkan deposito memiliki return yang setara atau sedikit di bawah inflasi karena terpotong pajak, tetapi tetap memberikan cash flow berupa bunga.
Sedangkan untuk saham, khususnya saham pembagi dividen, instrumen ini menawarkan pendapatan cash flow sekaligus potensi return on investment rata-rata di kisaran 10 hingga 12 persen per tahun untuk jangka waktu 5 hingga 10 tahun, meski angka tersebut sifatnya hanya asumsi dan tidak ada jaminan kepastian.
Mike kembali menekankan, durasi simpan emas di atas 5 hingga 10 tahun sebagai waktu yang paling ideal. Secara historis, harga emas dalam 20 tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan sekitar 5 hingga 6 persen per tahun.
“jadi kalau Anda menginginkan apresiasi pertumbuhan aset dalam jangka panjang maka durasi menyimpan emas ini boleh lah di atas 5 tahun ya 10 tahun itu juga ideal,” tutur Mike.
