KCI Klaim Penumpang KRL Melonjak sejak Terintegrasi dengan LRT Jabodebek
·waktu baca 2 menit

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) membeberkan adanya peningkatan penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek, usai terhubung dengan moda transportasi kereta Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek.
Vice President Corporate Secretary KAI Commuter Line, Anne Purba menyebutkan dengan adanya konektivitas LRT Jabodebek, jumlah penumpang KRL Jabodetabek naik hingga 35 persen.
“Dengan adanya LRT jumlah penumpang KRL terbukti begitu aktif. Ini sesuai dengan prediksi kami (LRT) meningkatkan penumpang KRL,” ujar Anne dalam konferensi pers di Kantor KCI Jakarta, pada Senin (6/11).
Kenaikan penumpang sebesar 35 persen tersebut, disebutkan Anne terjadi di Stasiun Sudirman yang terhubung dengan Stasiun LRT Sudirman.
"Di Stasiun Sudirman sendiri itu mengalami kenaikan 30 persen hingga 35 persen itu konektivitas antara LRT sampai Sudirman yang biasanya cuma 24.000 (penumpang) per hari itu lebih dari 30.000 (penumpang). Bahkan di jam-jam sibuk kita lihat rata-rata naik 35 persen," imbuh Anne.
Selain Stasiun Sudirman, stasiun KRL lain yang terhubung dengan moda LRT adalah Stasiun Cawang.
Anne bilang, stasiun KRL yang terhubung dengan stasiun LRT Cikoko ini mengalami kenaikan antara 12 hingga 15 persen. Meskipun, Anne tidak membuka berapa jumlah penumpang yang memadati stasiun ini.
Anne menyebut, selain terintegrasi dengan LRT, menurutnya penumpang juga dimudahkan dengan peningkatan kecepatan di lintasan KRL. Hal ini dilakukan demi mengurangi waktu tunggu dan waktu antar sarana atau headway.
KRL rute Bekasi misalnya, mulanya berkecepatan 70 km per jam, kini dinaikkan menjadi 90 km per jam. Kemudian di area lintas KRL Batu Ceper juga dinaikkan menjadi 80 km per jam.
"Nah kenapa kita ingin mempercepat? Pasti waktu tunggunya yang kita fokuskan yang lebih kecil. Kemudian hide away atau jarak kedatangan antar kereta harus lebih kecil," tutup Anne.
