Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.1
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Februari 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Kecewa Korban PHK Sritex: Saya Tulang Punggung Keluarga, Terima Berat Hati
28 Februari 2025 21:11 WIB
·
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Diketahui tanggal 28 Februari merupakan hari terakhir pabrik beroperasi sebelum ditutup permanen mulai Sabtu (1/3).
Pantauan kumparan, karyawan mulai keluar pabrik yang berada di Kecamatan/kabupaten Sukoharjo pukul 09:30 WIB. Mereka membuat sejumlah kelompok berfoto bersama di depan pabrik sebelum berpisah.
Tak hanya itu, sejumlah karyawan korban PHK juga mencoret baju kerja warna biru berisi tanda tangan sesama rekan kerja sebagai simbol kenang-kenangan setelah belasan hingga puluhan tahun bekerja di pabrik garmen terbesar di Indonesia itu.
Seorang karyawan korban PHK Karwi Mardianto (39) mengaku sudah bekerja di PT Sritex selama 17 tahun dan menjadi korban PHK. Ia pun mencoret baju kerja sebagai simbol kenang-kenangan pernah bersama di perusahaan.
“Saya sekarang lulus dari perusahaan (PHK). Ini bentuk apresiasi kami untuk saling mengingat (coret baju kerja penuh tanda tangan), hari terakhir kerja,” kata Karwi, Jumat (28/2).
ADVERTISEMENT
Dia mengaku kecewa atas PHK ini. Namun, demikian dengan berat hati menerimanya dengan lapang dada. “Kami kecewa atas PHK ini. Apalagi saya tulang punggung keluarga. Tetap harus kita terima dengan berat hati,” katanya.
Dia yakin ada jalan keluar atas PHK ini. Untuk menyambung hidup sementara makan pakai uang tabungan.
“Ya gimana ya, kalau ada rezeki nanti percayalah sama yang di atas, pasti ada jalan gitu aja. Saya punya tiga anak dan istri yang juga kena PHK di Sritex,” katanya.
Karyawan korban PHK lainnya, Sariyem (48) mengaku sudah bekerja di Sritex selama 28 tahun. Ibu satu anak ini tak menyangka harus kehilangan mata pencaharian.
“Saya hanya bisa pasrah. Berharap ada investor yang yang mengakuisisi sehingga kami bisa bekerja,” kata Sariem.
ADVERTISEMENT
Dia menambahkan untuk sementara harus mencairkan tabungannya untuk menyambung hidup. Terlebih, ia usianya sudah tua akan sulit mencari kerja. “Saya sudah tua, sulit dapat kerja. Harapan saya perusahaan bisa beroperasi lagi dengan investor baru,” pungkasnya.