Kumparan Logo

Kejar Target Pelanggan, PLN Jatim Butuh 45.000 Tiang Listrik

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Instalasi kabel listrik dan telekomunikasi (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
zoom-in-whitePerbesar
Instalasi kabel listrik dan telekomunikasi (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN Distribusi Jawa Timur membutuhkan pasokan tiang listrik sebanyak 45 ribu lebih untuk tahun 2018. Kebutuhan tiang listrik sebanyak itu, untuk mengejar target tambahan 456.000 pelanggan di wilayah Jawa Timur.

General Manager PLN Jatim Dwi Kusnanto menjelaskan, capaian target pelanggan tersebut untuk mendukung kenaikan ranking elektrifikasi Indonesia di dunia. PLN menargetkan, pada 2018 ranking elektrifikasi Indonesia naik ke ranking 25 dari posisi saat ini di ranking 38, dari 190 negara di dunia.

"Rinciannya untuk tiang beton setinggi 9 meter dibutuhkan sebanyak 28.235 batang, ditambah tiang beton 13 meter sebanyak 17.217 batang," kata Dwi Surabaya, seperti dikutip dari Antara, Jumat (23/2).

Dia menjelaskan, dengan target tambahan 456 ribu pelanggan, diharapkan hingga akhir 2018 ini jumlah pelanggan listrik di Jatim mencapai 11.456.000. Sehingga target penjualan llistrik PLN Jatim bisa mencapai Rp 41,44 triliun.

Ilustrasi tiang listrik (Foto: Josstyk via Pixabay (CC0 Creative Commons))
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tiang listrik (Foto: Josstyk via Pixabay (CC0 Creative Commons))

Terkait pencapaian target tersebut, Dwi menambahkan pihaknya tetap memprioritaskan aspek keselamatan kerja dalam pengerjaan proyek kelistrikan. "Kita berkomitmen zero accident dengan taat SOP serta peralatan kerja dan pelindung diri yang standar," ujarnya.

Dalam pemasangan tiang listrik beton, misalnya wajib menggunakan mobil crane, tidak lagi menggunakan cara manual/konvensional. Selain itu juga, memperhatikan batas tanam yang sesuai standar kedalaman serta sesuai konstruksi. Berikutnya waktu pendistribusian dan penempatan di site, selambatnya 24 jam sebelum pendirian.

"Koordinasi dan komunikasi antarpengawas pekerjaan di lapangan dengan pengawas di unit kerja juga penting. Dengan mengikuti semua prosedur itu, diharapkan tak ada insiden yang mengganggu pekerjaan sehingga target tercapai tepat waktu," imbuhnya.