Kumparan Logo

Kemendiktisaintek Akui Dana Riset Terhadap PDB RI Minim

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemendiktisaintek, I Ketut Adnyana, saat Minerba Convex 2025, Kamis (16/10/2025).  Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemendiktisaintek, I Ketut Adnyana, saat Minerba Convex 2025, Kamis (16/10/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengakui dana riset dari Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) sangat minim terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemendiktisaintek, I Ketut Adnyana, membandingkan anggaran riset Indonesia dengan negara lain, seperti Korea Selatan hingga Israel, sangat jomplang.

"Keterbatasan anggaran yang tadi disampaikan bahwa memang benar untuk riset dan pengembangan kita masih di angka 0,2 persen dari GDP kita. Masih sangat-sangat jauh dibandingkan dengan Korea, apalagi Israel," ungkapnya saat Minerba Convex 2025, Kamis (16/10).

Ketut menyebutkan, Israel memiliki rasio anggaran riset terhadap PDB yang sangat tinggi, mencapai 6,7 persen. Indonesia masih berusaha mengejar ketertinggalan, dengan target rasio yang diharapkan dapat mencapai 1-3 persen.

"Israel punya sekitar 6,7 persen dari GDP untuk riset dan pengembangan. Kita memang kira-kiranya menuju ke angka 1 atau 3 persen lah seperti itu dari GDP kita. Memang masih sangat jauh," tegas Ketut.

Di tengah keterbatasan anggaran tersebut, Ketut menilai Kemendiktisaintek berusaha mengoptimalkannya melalui dua skema pengembangan riset, yakni pertama riset prioritas yang didanai APBN sebesar Rp 2,5 triliun.

Kemudian skema besar yang kedua adalah riset strategis, dengan tulang punggung (backbone) utamanya adalah LPDP yang dananya digelontorkan sekitar Rp 1,1 triliun.

"Dengan resources yang terbatas, kita ingin mewujudkan yang disebut dengan ekosistem riset dan pengembangan yang terintegrasi dan berdampak dari hulu sampai hilir, baik itu terkait dengan sumber daya manusia, program-program riset, dan juga hilirisasi dan kemitraan," tutur Ketut.

Salah satu tema prioritas riset Kemendiktisaintek yakni di sektor mineral kritis. Dia mencatat sudah ada 17 proposal riset khusus tentang mineral kritis yang akan didanai negara, baik melalui APBN maupun dana abadi LPDP.

"Kalau tema salah satunya adalah bisnis mineral, energi, kemudian teknologi maju, baterai, transportasi, ekonomi hijau, termasuk juga semikonduktor. Nah ini poinnya lebih strategis, kenapa demikian? Karena skema ini bisa mandatory atau limitasi terbatas," jelasnya.

Penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi tersebut bermitra dengan badan usaha yang berkaitan, ia mencontohkan kemitraan bersama Holding BUMN Pertambangan MIND ID dan anak usahanya PT Timah (Persero).

"Dana ini adalah diperuntukkan untuk perguruan tinggi. Tapi kata kuncinya kolaborasi, maksudnya mitranya, salah satunya ada PT Timah, MIND ID, yang melakukan teman-teman dari perguruan tinggi," ujarnya.

instagram embed