Kumparan Logo

Kemenhub Pernah Cabut Izin Rute Lion Air karena Sering Delay

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Awak kabin Lion Air. Foto: Dok. Lion Air Group
zoom-in-whitePerbesar
Awak kabin Lion Air. Foto: Dok. Lion Air Group

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menanggapi soal maskapai penerbangan Lion Air yang sering delay. Tak sedikit penumpang mengeluhkan soal delay, dalam setiap penerbangannya menggunakan maskapai berkode JT tersebut.

Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati mengatakan semua penerbangan yang tidak memenuhi SOP dan on time performance tentu menjadi perhatian Kemenhub. Pelanggaran terhadap ketentuan pasti ada sanksinya, mulai dari teguran hingga sanksi berat seperti pencabutan izin rute.

“Sudah pernah juga (dicabut izin rute). Teguran dan sanksi sudah beberapa kali diberikan kepada maskapai termasuk kepada Lion,” kata Adita kepada kumparan, Kamis (8/6).

Adita menegaskan, setiap aduan atau adanya potensi pelanggaran akan dilakukan investigasi dulu. Lion Air juga sudah diberi teguran belakangan ini.

“Kalau teguran dan sanksi sudah dilakukan sejak dulu, karena ini bagian dari tugas regulator untuk memastikan para operator memenuhi service level. Khusus untuk yang terjadi akhir-akhir ini pun sebagian sudah kami berikan teguran,” imbuhnya.

Sebelumnya, Sekretaris Umum (Sekum) PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengeluhkan hampir setiap penerbangan Lion selalu delay. Pihak maskapai juga tidak pernah meminta maaf kepada penumpang.

"Hampir setiap terbang selalu dengan Lion Group. Hampir setiap penerbangan selalu delay. Dan, mereka (hampir) tidak pernah minta maaf atas keterlambatan penerbangan," kata Abdul Mu'ti melalui akun instagram-nya, dikutip Kamis (8/6).

embed from external kumparan

Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu telah mengizinkan kumparan mengutip unggahan di akun media sosial miliknya. Menurutnya, frekuensi penggunaan penerbangan yang dia gunakan cukup tinggi, karena hampir setiap pekan pergi ke berbagai daerah di tanah air.

Dalam sepekan terakhir misalnya, dia memaparkan terbang pada rute Jakarta-Batam (31 Mei); Batam-Jakarta (2 Juni). Jakarta-Surabaya (3 Juni), Jakarta-Jogja (7 Juni). Semuanya menggunakan Lion Air dan terlambat (delay) lebih dari 30 menit.

"Mungkin mereka yakin, hampir tidak ada penerbangan lain yang bisa melayani. Semua bandara nyaris menjadi "milik" Lion Group. Padahal Bandara itu milik negara," imbuh Abdul Mu'ti.

"Ke mana perginya Garuda, penerbangan milik negara itu. Atau jangan-jangan negara sudah menjadi "milik" Lion Group?" sambungnya.