Kumparan Logo

Kemenkop: Sektor Perikanan Punya Peluang Besar di Pasar Domestik dan Ekspor

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ikan-ikan yang beku di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Muara Angke, Jakarta Utara. Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ikan-ikan yang beku di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Muara Angke, Jakarta Utara. Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO

Sektor perikanan dianggap memiliki pasar yang luas baik di dalam maupun di luar negeri. Apalagi, masyarakat Indonesia banyak yang bergerak sebagai nelayan atau pembudidaya ikan.

Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Victoria Simanungkalit, mengungkapkan berdasarkan data jumlah nelayan mencapai 2,3 juta dan pembudidaya ikan ada 4 juta orang. Mayoritas dari mereka melibatkan pelaku usaha mikro.

“Sektor perikanan memiliki peluang pasar domestik dan ekspor yang besar,” kata Victoria saat webinar di Kemenkop UKM, Selasa (6/10).

Peluang tersebut, kata Victoria, dilihat dari capaian produksi perikanan tangkap khususnya tuna sebesar 6,5 juta ton dengan estimasi stok 12,5 juta ton. Sementara peningkatan ekspor tang semula USD 700 juta di 2018 ditargetkan menjadi USD 1,5 miliar di 2024.

“Sedangkan untuk perikanan budidaya atau udang target peningkatan ekspor udang dari USD 1,2 miliar 2018 menjadi USD 3 miliar di 2020,” ujar Victoria.

Pedagang ikan di Pasar 8 Alam Sutera, Tangerang Selatan. Pasokan tetap normal di tengah kekhawatiran virus corona. Foto: Wendiyanto/ kumparan

Meski begitu, Victoria mengungkapkan nelayan dan pembudidaya ikan juga tak terlepas dari dampak adanya virus corona. Dampak tersebut dimulai dari sisi hulu dengan meningkatnya biaya produksi yang dikeluarkan seperti karena kelangkaan BBM.

“Sampai sisi hilir yang permasalahannya didominasi oleh ketidakpastian penyerapan dan rendahnya daya beli terhadap produk ikan,” ungkap Victoria.

Victoria menjelaskan kondisi itu juga disebabkan adanya kebijakan interaksi fisik dan berkurangnya aktivitas di hilir selama pandemi COVID-19. Hal tersebut berimbas pada penurunan daya beli, melemahnya daya serap industri, sampai kendala ekspor.

“Sementara penjualan ikan di pasar online masih terbatas belum lagi masalah yang sudah kita hadapi sejak tahun-tahun lalu yaitu biaya angkut dan logistik yang mahal,” tutur Victoria.