Kemenperin Ajak Pengusaha Kecil Gunakan Unsur Budaya Agar Dagangan Dibeli Gen Z

26 Februari 2023 21:12
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian RI, Dody Widodo. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian RI, Dody Widodo. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Dody Widodo, mengungkapkan cara yang dapat digunakan oleh pengusaha industri kecil lokal agar bisa menggaet para konsumen terutama Generasi Z. Salah satunya menyematkan unsur kebudayaan terhadap produknya.
Menurut dia, unsur kebudayaan yang disematkan pada produk dapat meningkatkan nilai dari barang sehingga laku dijual kepada Gen Z.
"Tentunya, membuat sebuah produk itu harus ada pembelajaran literasi," kata dia dalam kegiatan 'Bangga Total Kenal Produk Lokal' yang diadakan di Museum Sri Baduga, Kota Bandung, pada Minggu (26/2).
Dody lalu menyebut contoh dari produk yang telah menyematkan unsur kebudayaan antara lain sepatu merek Brodo dan jam tangan merek Pala Nusantara. Produk Brodo misalnya, pada tahun lalu berkolaborasi dengan artis Dian Sastrowardoyo membuat sepatu yang motifnya berasal dari kain tenun ikat Sumba.
"Brodo dengan ikonik Dian Sastro Wardoyo membuat sepatu yang berbasis tenun Sumba, banyak lagi sebenernya yang bisa kita tumbuhkan dari produk itu," ucap dia.
Kemudian, Pala Nusantara menyematkan unsur budaya melalui pengenalan nama hewan yang ada di Indonesia seperti Komodo. Dengan cara itu, Dody meyakini para Generasi Z bakal lebih tertarik untuk membeli produk lokal.
"Pala tadi membuat ikonik produk yang berbasis dengan pengenalan hewan yang spesifik dari Indonesia, Komodo seperti yang yang seharusnya kita bisa sampaikan," ucap dia.
"Kemudian, kayak kopi sekarang kan warung kopi Toraja dari sini, jangan ke warung kopi warung kopi Vietnam, tapi warung kopi Toraja, Flores, Gayo, itu hal yang seperti itu," lanjut dia.
Di lokasi yang sama, BDO Brodo, Anggraito Danangjoyo atau dikenal Ito, mengungkap bahwa belakangan ini ada tantangan yang dihadapi oleh para pelaku usaha produk fashion di Indonesia yakni marak masuknya barang bekas dari luar negeri dengan harga yang kompetitif apabila dibandingkan dengan produk lokal.
"Ada challenge tersendiri sekarang kan yang lagu marak adalah barang-barang kontainer barang bekas dari luar negeri, itu kan harganya memang kompetitif sekali, brand-nya juga brand gede dari luar tapi karena barang bekas kan pasti harganya kompetitif sekali," ujar dia.
Untuk mengatasi tantangan itu, Ito mau tak mau harus terus melakukan inovasi dengan cara meningkatkan strategi pemasaran dan kualitas produk. Peningkatan kualitas produk diperlukan untuk menjaga pengalaman konsumen ketika memakai produknya.
"Customer experience itu yang paling penting buat kita, bagaimana kita mau dihargai sama market lokal dan global tentunya tapi kalau kita juga gak bisa memberikan standar yang baik untuk dihargai oleh customer, makanya customer experience itu penting sekali," kata dia.