Kemenperin Bidik Pasar Baru untuk Genjot Produktivitas Industri
·waktu baca 2 menit

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat saat ini utilisasi atau kapasitas produksi terpakai industri manufaktur Indonesia baru mencapai 61,9 persen. Masih ada sisa hingga 30 persen bila dimaksimalkan.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, untuk mendorong peningkatan produksi dan penyerapan tenaga kerja, pemerintah kini gencar mencari pasar-pasar baru di luar komoditas tradisional.
“Kalau tidak ada pasar baru, produksi kita segitu-gitu saja. Enggak akan ada tambahan produksi dan enggak akan ada tenaga kerja tambahan,” ujar Faisol dalam gelaran 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Hotel JS Luwansa, Kamis (16/10).
Menurut Faisol, penguatan pasar menjadi pekerjaan rumah besar bagi sektor industri nasional. Faisol menyayangkan Indonesia belum bisa memanfaatkan besarnya potensi pasar ASEAN.
Dia melihat upaya China yang saat ini terpukul dengan dikenakannya tarif tinggi oleh Amerika Serikat (AS), namun tetap bisa memiliki kinerja perdagangan baik dengan pemanfaatan pasar ASEAN.
“Mereka menganggap serius ASEAN. Nah sementara kita melihat bahwa pasar ASEAN ini belum kita garap optimal. Pasar ASEAN, belum kita garap optimal,” imbuhnya.
Faisol kemudian mencontohkan langkah sejumlah pelaku ritel Indonesia seperti Alfamart yang telah membuka lebih dari 2.000 gerai di Filipina. Upaya ekspansi semacam ini, kata dia, bisa menjadi pintu awal untuk memperluas jangkauan produk Indonesia ke luar negeri.
“Outlet-outlet seperti itu bisa menjadi duta perdagangan kita. Dari sana kita bisa membuka pasar lebih luas supaya ekspor kita meningkat,” tuturnya.
