Kumparan Logo

Kemenperin Catat Indeks Kepercayaan Industri Agustus 2026 Melambat ke 52,30

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 Ilustrasi kawasan industri Jawa Barat. Foto: Roy Ismail/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kawasan industri Jawa Barat. Foto: Roy Ismail/Shutterstock

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 sebesar 52,30 atau melambat sebesar 0,80 poin dibandingkan dengan Juli 2026 yang sebesar 53,10.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, memastikan meski melambat, nilai IKI Agustus ini masih berada dalam fase ekspansi.

“Nilai ini pada bulan Agustus 2026 adalah 52,30 masih di atas 50 atau masih ekspansi meskipun melambat sebesar 0,80 poin dibandingkan dengan bulan Juli 2026 yang IKI-nya sebesar 53,1,” kata Febri dalam konferensi pers IKI dari YouTube Kemenperin, Senin (31/8).

Nilai IKI Agustus 2026 juga melambat 1,25 poin jika dibandingkan nilai IKI pada bulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 53,55.

Febri menjelaskan dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 22 subsektor mengalami ekspansi dan satu subsektor mengalami kontraksi. Subsektor yang mengalami ekspansi memiliki kontribusi sebesar 98,6 persen terhadap total PDB industri pengolahan.

Industri dengan nilai IKI tertinggi pada Agustus 2026 adalah subsektor industri minuman (KBLI 11) dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia (KBLI 20).

“Kami mendapatkan informasi industri makanan terutama industri CPO sedang mengalami kenaikan harga terutama di pasar ekspor dan kemudian ada penundaan permintaan CPO terhadap upaya untuk transformasi biodiesel dari B40 ke B50,” ujar Febri.

Sementara itu, satu subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki (KBLI 15).

Berdasarkan variabel pembentuk IKI, variabel pesanan baru pada Agustus 2026 mengalami perlambatan sebesar 0,67 poin menjadi 53,13. Sebaliknya, variabel produksi meningkat 0,55 poin menjadi 55,10.

Sementara itu, variabel persediaan produk mengalami penurunan sebesar 3,16 poin menjadi 46,02. Penurunan tersebut membuat variabel persediaan produk masuk ke zona kontraksi.

Berdasarkan orientasi pasar industri, IKI industri berorientasi ekspor dan domestik keduanya mengalami perlambatan. IKI industri domestik turun menjadi 51,13, sedangkan IKI industri berorientasi ekspor turun menjadi 53,09.

Febri menuturkan untuk industri berorientasi ekspor, salah satu faktor yang menekan IKI adalah kenaikan biaya logistik luar negeri, baik untuk pembelian bahan baku impor maupun penjualan produk manufaktur.

Kondisi Usaha Industri Cenderung Stagnan

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief di kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis (29/1/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Febri membeberkan perkembangan kegiatan usaha industri pada Agustus 2026 secara umum mengalami perlambatan tipis. Sebanyak 78,6 persen responden menyampaikan kondisi kegiatan usahanya membaik dan stabil, meningkat 0,7 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Proporsi pelaku usaha yang menyatakan kondisi usahanya membaik sebesar 34,2 persen, turun 0,4 poin. Sementara itu, pelaku usaha yang menyatakan kondisi usahanya stabil mencapai 44,4 persen atau naik 1,1 poin. Adapun persentase pelaku usaha yang menyatakan kondisi usahanya menurun turun 0,7 poin menjadi 21,4 persen.

Febri menuturkan untuk tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya dalam enam bulan ke depan mencapai 66,6 persen. Angka tersebut melambat 1,2 poin dibandingkan dengan persentase pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, sebanyak 27,4 persen pelaku usaha menyatakan kondisi usahanya akan stabil dalam enam bulan ke depan, naik 2,2 poin dibandingkan bulan sebelumnya. “Persentase pesimisme turun 1,0 persen menjadi 6,0 persen,” tuturnya.