Kumparan Logo

Kemenperin Ungkap Penyebab Petani Tebu Belum Sejahtera meski Konsumsi Gula Naik

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petani memanen tebu di Sidoarjo Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq
zoom-in-whitePerbesar
Petani memanen tebu di Sidoarjo Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjelaskan tingkat kesejahteraan petani tebu masih belum terjamin di tengah kondisi konsumsi gula nasional yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin, Edy Sutopo, mengatakan salah satu sebabnya adalah jumlah pabrik gula (PG) yang saat ini sudah banyak, terutama di Pulau Jawa tidak berproduksi secara efektif dan efisien.

Dia mencontohkan, sebanyak 43 PG milik BUMN sebagian besar ada di Pulau Jawa, rata-rata kapasitasnya hanya berkisar antara 3.800 ton cane per day (TCD). Bahkan ada yang kapasitasnya di bawah 2.000 TCD.

"Itu mesinnya dari zaman Belanda, jadi mesin tidak efisien, kapasitasnya kecil. Sementara kita melihat kapasitas industri gula di Brasil misalnya sebagai pengekspor gula dunia itu sekitar 10.000 TCD rata-rata," kata Edy saat rapat dengan Komisi VII DPR, Senin (27/6).

Edy melanjutkan, kapasitas pabrik gula di Thailand jauh lebih besar lagi yaitu rata-rata mencapai 30.000 TCD. Dia menilai, strategi negara tersebut yaitu dengan mengambil kadar gula tertinggi yang kadang naik dan turun.

"Jadi ketika musim kemarau nanti akan naik, ketika musim hujan dia akan turun lagi, di strategi Thailand itu dengan kapasitas besar supaya dia bisa ngambil rendemen (tebu) yang tertinggi," jelasnya.

Dia menambahkan, faktor lain yang membuat kesejahteraan petani tebu tidak kunjung meningkat adalah terlalu banyak pabrik gula yang beroperasi di Indonesia, terutama di Pulau Jawa yaitu mencapai 50 pabrik.

"Sebenarnya menurut kajian yang pernah kita lakukan bersama IPB dan para pakar, di Jawa itu idealnya sekitar 20-an PG, itu dengan daya dukung tanaman yang ada dengan kapasitas yang memadai sesuai dengan skala keekonomian internasional," tutur Edy.

Dia menegaskan, pemerintah bersama DPR harus mencari solusi dari permasalahan tersebut, baik itu masalah mesin PG yang sudah terlalu tua sehingga produksi tidak maksimal maupun jumlah PG yang terlalu banyak.

"Kalau kapasitas kecil-kecil mesinnya sangat tua dia tidak efisien, ongkosnya produksinya sangat tinggi sehingga dia tidak mampu membeli harga tebu yang memadai bagi petani," ujar Edy.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika. Foto: Akbar Maulana/kumparan

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, memaparkan jumlah PG yang ada di Indonesia saat ini meliputi PG yang mengolah tebu menjadi Gula Kristal Putih (GKP) untuk pemenuhan konsumsi langsung ada 43 PG BUMN dengan kapasitas 163.950 TCD, serta 19 PG swasta dengan kapasitas 153.000 TCD.

Selanjutnya, PG yang mengolah raw sugar menjadi Gula Kristal Rafinasi (GKR) untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku industri makanan, minuman dan farmasi (maninfar) terdiri dari 11 pabrik gula rafinasi (PGR) dengan kapasitas 5,016 juta ton.

"Kita perkiraan kebutuhan gula nasional kita antara 5,8-6,2 juta ton dan terdiri dari kebutuhan rumah tangga kurang lebih 2,8-3 juta ton, dan industri maninfar 3-3,2 juta ton dan industri kecil menengah (IKM) 400-500 ribu ton," jelas Putu.

Adapun produksi gula nasional saat ini, kata Putu, yaitu gula tebu di 43 PG BUMN dan 19 swasta sebanyak 2,1 juta ton, pemenuhan GKR 3-3,2 juta ton dari PG GKR sebanyak 11 PGR, serta pemenuhan oleh GKP sebesar 0,7-0,9 juta ton oleh PG GKP dengan 13 PG tebu.