Kementan Munculkan Wacana Tanam Bawang Putih di Dataran Rendah

Kementerian Pertanian menyatakan keinginan untuk menjajal produksi bawang putih di dataran rendah. Wacana tersebut muncul untuk mengejar ambisi swasembada bawang putih yang hingga kini masih tergantung pada impor.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Hortikultura Kementan Moh Ismail Wahab mengatakan, butuh persiapan yang matang dalam merampungkan wacana ini. Sebab, selain harus mengembangkan varietas baru, pihaknya juga harus menggunakan teknologi canggih dalam budi daya bawang putih di dataran rendah.
"Kalau mau buat bawang putih di dataran rendah itu bisa, tapi harus gunakan sejumlah teknologi yang bisa membuat suhu di sekitar 7 derajat. Nah, itu pasti butuh biaya yang sangat besar," katanya saat dihubungi kumparan, Jumat (31/5).
Sementara itu, Guru Besar IPB Dwi Andreas Santoso menilai, wacana memproduksi bawang putih di dataran rendah mungkin saja untuk direalisasikan. Akan tetapi, menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menciptakan varietas baru yang sesuai dengan lokasi penanaman.
"Semuanya mungkin. Tergantung varietas bawang putihnya. Dulu pernah ada bawang putih ditanam di dataran rendah. Dan itu kan pengembangan bibitnya yang harus dimulai lagi di awal, untuk pengembangan benih baput," ujar Dwi kepada kumparan.
Dia menjelaskan, upaya penanaman bawang putih di dataran rendah pernah dilakukan. Akan tetapi, upaya tersebut tak dijalankan lagi karena dinilai gagal.
Dwi tak merinci kapan penanaman bawang putih di dataran rendah dilakukan. Namun menurutnya, saat ini produktivitas bawang putih di dataran rendah hanya setengah dari produktivitas bawang putih di dataran tinggi.
"Kalau ada petani mau nanam bawang putih di dataran rendah ya pernah. Karena produktivitasnya rendah, kalau produktivitasnya rendah kan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan nantinya," ucapnya.
Kegagalan itu diperparah dengan masuknya bawang putih impor, terutama dari China. Bawang putih impor memiliki kualitas yang lebih baik dan harganya lebih murah.
"Lalu kemudian bawang putih impor masuk, ya selesai semua kan, baik yang dataran tinggi maupun dataran rendah. Karena apa? Karena kan harga sudah tidak mampu lagi bersaing," kata Dwi.
Dwi menjelaskan, bawang putih yang ada saat ini bisa tumbuh baik dengan suhu rendah. Selain itu, karakter tanahnya juga harus kering.
Syarat tersebutlah yang membuat penanaman bawang putih agak sulit dilakukan di Indonesia. Berbeda dengan China yang sebagian daratannya memenuhi persyaratan tersebut.
"Mengapa baput (bawang putih) China produktivitasnya lebih tinggi dibanding bawang putih Indonesia? Ya karena memang dari sisi tanah, dari sisi panjang hari yang bisa sampai 17 macam per hari, sehingga ya otomatis bawang China dari sisi kualitas dan produksi jauh lebih tinggi," jelasnya.
Oleh karena itu, untuk mewujudkan wacana menanam bawang putih di dataran rendah, perlu dimunculkan varietas baru yang sesuai.
"Baput yang dataran tinggi aja, yang kemarin banyak dicoba pada program tanam 5 persen aja produktivitasnya hanya 3 sampai 4 saja. Bahkan beberapa laporan sama sekali tidak berproduksi, gagal panen. Bisa dibayangkan kalau kita mau mengembangkan baput dataran rendah," ujarnya.
