Kementan: Pasokan Gula Aman, Kelangkaan Mungkin Akibat Kendala Distribusi
·waktu baca 2 menit

Sejak awal tahun ini pasokan gula pasir dikabarkan langka, terutama di ritel-ritel modern. Berdasarkan pantauan kumparan, setidaknya ada dua wilayah di mana pasokan gula sulit di temukan di ritel, yaitu di Mojokerto Jawa Timur dan di Ciamis Jawa Barat.
Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementerian Pertanian (Kementan), Ardi Praptono, mengatakan kelangkaan gula kemungkinan disebabkan kendala distribusi. Karena dari segi pasokan, ia menilai ketersediaan gula mencukupi untuk kebutuhan nasional.
"Dalam pemenuhan gula periode Januari sampai dengan Maret (2022) masih dipenuhi dari stok gula tahun lalu ditambah dengan gula yang diimpor tahun 2022 ini," jelas Ardi kepada kumparan, Rabu (9/2).
Ardi menjelaskan, kebutuhan gula konsumsi nasional saat ini sekitar 3,2 juta ton. Sementara kemampuan produksi gula nasional yang berbasis tebu saat ini hanya berkisar 2,3 juta ton. Sehingga kekurangan gula konsumsi tersebut dipenuhi dari impor gula.
"Sesuai dengan hasil Rakortas tingkat Menteri disepakati bahwa untuk memenuhi kekurangan gula konsumsi diimpor gula dalam bentuk raw sugar sekitar 891 ribu ton dan dalam bentuk gula kristal putih sekitar 150 ribu ton yang diharapkan sudah masuk dan didistribusikan sebelum musim giling di bulan Mei 2022," ujarnya.
Menurut Ardi, pabrik gula pasir akan mulai proses penggilingan baru pada bulan Mei 2022, dan perkiraan tutup giling pada Oktober sampai November 2022.
Terkait pasokan gula di dalam negeri ini sebelumnya telah disampaikan oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Sekretaris Jenderal APTRI, Nur Khabsyin, memastikan bahwa pasokan gula dari pihaknya dalam kondisi mencukupi.
Khabsyin menduga munculnya isu kelangkaan gula ini nantinya bakal merugikan para petani. Karena setelah muncul isu tersebut akan diikuti dengan adanya permintaan impor gula.
"Ujung-ujungnya minta impor. Nanti petani yang jadi korban," ungkap Khabsyin.
