Kementerian ESDM Pastikan Proyek Titan Huayou Groundbreaking Akhir Oktober 2025
ยทwaktu baca 3 menit

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) kongsi Zhejiang Huayou Cobalt dengan BUMN Indonesia, alias Proyek Titan, akan segera groundbreaking akhir Oktober atau awal November 2025.
Target tersebut mundur dari rencana awal Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yakni September 2025. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika, memastikan proyek ini akan tetap mulai konstruksi di kuartal IV 2025.
"Yang Titan yang Huayou ya? Sepertinya itu akhir Oktober atau awal November. Sekitar itu lah," ungkap Erani saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (19/9).
Erani tidak menjelaskan dengan rinci mengapa ada keterlambatan dari groundbreaking megaproyek tersebut. Adapun baru-baru ini, PT Indonesia Battery Corporation (IBC) kehilangan posisi Direktur Utama (Dirut), yakni Toto Nugroho yang terjerat kasus hukum saat jabatan sebelumnya.
Dia memastikan pucuk pimpinan IBC sudah terpilih dan mulai menghadiri rapat dengan pemerintah. Hanya saja, ia tidak mengungkapkan dengan rinci nama pengganti Toto Nugroho.
"Sepertinya sudah, (Dirut) IBC ya. Kemarin kan ikut rapat setelah pelantikan saya ikut rapat, kayaknya mereka di datang kok," ungkap Erani.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan proyek ekosistem kendaraan listrik Huayou dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Indonesia Battery Corporation (IBC) akan groundbreaking pada September 2025.
(Proyek Titan) belum, nanti mungkin September-Oktober ya," ungkap Bahlil saat ditemui di kompleks parlemen, Rabu (2/7).
Huayou remi menggantikan posisi LG Energy Solution (LGES) yang memutuskan hengkang dari proyek Titan. Megaproyek yang juga berkongsi dengan IBC dan Antam tersebut membutuhkan investasi USD 9,8 miliar atau setara Rp 129 triliun, namun LG sudah merealisasikan investasi USD 1,1 miliar.
Ditemui terpisah, Mantan Direktur Utama IBC Toto Nugroho mengatakan proses pembahasan proyek Titan antara pihak Huayou dengan IBC dan Antam masih dalam tahap awal, sehingga dirinya belum bisa menjelaskan dengan rinci desain kerja samanya.
Toto menyebutkan, kapasitas produksi baterai proyek Titan diperkirakan hampir sama dengan proyek Dragon, yakni 10-15 GWh. Dengan demikian, seluruh ekosistem baterai EV di Indonesia ditaksir dapat mempoduksi hingga 30 GWh.
"Indonesia harusnya dalam 3-4 tahun itu hampir mendekati 30 GWh. Sekarang kalau di belahan Bumi Selatan, Indonesia itu pabrik baterai terbesar di dunia. Kalau dilihat Amerika Selatan, India, Timur Tengah, itu semua kalah kapasitasnya sama apa yang ada di Indonesia," jelasnya.
Hal ini menyusul megaproyek ekosistem baterai EV lain, yaitu Proyek Dragon kerja sama Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dengan Antam dan IBC, sudah resmi groundbreaking, Minggu (29/6) lalu.
Investasi proyek Dragon ditaksir mencapai USD 5,9 miliar atau setara Rp 96 triliun. Ekosistem baterai EV terintegrasi tersebut akan dikembangkan di Halmahera Timur, Maluku Utara, dan Karawang, Jawa Barat, dengan total kapasitas produksi baterai 15 gigawatt per hour (GWh).
