Kenapa Inalum Harus Beli 40% Hak Kelola Rio Tinto di Freeport?

PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum selaku induk usaha holding BUMN pertambangan tengah berupaya mencaplok 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI), salah satunya dengan membeli 40% Participating Interest (PI) alias hak kelola Rio Tinto.
Namun, saat ini, saham PTFI sebesar 90,64% dimiliki oleh Freeport McMoRan Inc, dan 9,36% dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Lantas, mengapa pemerintah Indonesia tak langsung membeli saham milik Freeport McMoRan Inc?
Menurut Head of Corporate Communication PT Inalum, Rendi Witular, sebesar 40% PI Rio Tinto secara de facto setara dengan menguasai 40% PTFI dengan hak dan kewajiban yang hampir 100% sama dengan Freeport McMoRan Inc yang memiliki 90,64% saham.
Bahkan Rio Tinto memperoleh pendapatan terlebih dahulu daripada pemerintah yang memiliki saham 9,36%. Sebab Rio Tinto memperoleh pendapatan usai PTFI berproduksi, berbeda dengan pemerintah yang pendapatannya dari dividen.
Sesuai data yang diterima kumparan (kumparan.com), secara economic interest, Freeport McMoRan Inc hanya memiliki 54,32% saham PTFI, sementara Rio Tinto memiliki 40% saham PTFI, dan pemerintah Indonesia hanya 5,68% saham PTFI.
Jika hanya membeli saham Freeport Mcmoran, berdasarkan perhitungan equity interest, saham pemerintah Indonesia memang akan menjadi 51%, Freeport McMoran berkurang menjadi 49%, dan Rio Tinto tetap tidak memiliki saham.
Namun secara economic interest, saham Rio Tinto tetap 40%, saham pemerintah Indonesia hanya naik menjadi 31%, dan Freeport McMoran sebesar 29%. Oleh karena itu, menurut Rendi, pemerintah harus membeli PI Rio Tinto dan saham dari Freeport McMoran.
"Pembelian participating interest Rio Tinto ditujukan untuk menyatukan equity dan economic interest menjadi 51% Indonesia, dan 49% Freeport McMoran," ujarnya saat ditemui di Kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Selasa (20/3).
