Kumparan Logo

Kepala Bappenas Sebut Lapangan Kerja Penting, tapi MBG Lebih Mendesak

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Bappenas Rachmat Pambudy, Kepala Sekolah SDN Kalibaru 01 Ruliyah, Ketua BGN Dadan Hindayana saat kunjungan BGN di SDN Kalibaru 01, Jakarta Utara, Kamis (8/1/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Bappenas Rachmat Pambudy, Kepala Sekolah SDN Kalibaru 01 Ruliyah, Ketua BGN Dadan Hindayana saat kunjungan BGN di SDN Kalibaru 01, Jakarta Utara, Kamis (8/1/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini lebih mendesak dari penciptaan lapangan kerja.

Rachmat menilai tantangan pembangunan saat ini lebih berat karena ketimpangan sosial yang melebar. Menurutnya, masyarakat miskin lebih membutuhkan asupan gizi agar tidak mengalami stunting. Sehingga proyek infrastruktur seharusnya mencakup bidang sosial, tidak hanya fisik.

"Kita lihat anak-anak kita stunting. Sekarang kita tidak hanya harus membangun infrastruktur fisik, jembatan, pelabuhan, kita tidak hanya harus membangun jalan lebih panjang, kita tidak hanya harus membangun digitalisasi lebih tapi kita sekarang harus membangun secara bersamaan," kata Rachmat saat Prasasti Economic Forum 2026, Kamis (29/1).

Saat ditanya seberapa penting MBG, ia dengan tegas menjawab bahwa program tersebut sangat penting, bahkan lebih mendesak dari pembukaan lapangan pekerjaan.

"Saya mengatakan MBG lebih mendesak, daripada lapangan kerja. Tetapi dikatakan katanya, MBG lebih penting daripada lapangan kerja. MBG penting, lapangan kerja penting. Tetapi MBG lebih mendesak," tegas Rachmat.

Rachmat lalu menyoroti masih banyaknya kasus stunting dan kelaparan yang dialami anak-anak, terutama di daerah terpencil dan terluar. Sehingga program MBG dinilai menjadi solusi terbaik.

"Ada yang bilang tolong kasih kail, jangan ikan. Kalau dikasih kail, sudah keburu mati. Cobalah lihat saudara-saudara kita di ujung pelosok desa kita. Mereka lapar, mereka kelaparan," ujar Rachmat.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mencatat sudah ada 58 juta penerima manfaat MBG selama setahun lebih program tersebut berjalan. Ia menargetkan hingga akhir 2026, penerima manfaat MBG akan bertambah hingga total 82 juta.

video story embed