Ketum Kadin Ungkap Isi Pertemuan dengan Prabowo di Istana

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie membeberkan isi pertemuan jajaran pengurus Kadin dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada Jumat (31/7).
Anindya menuturkan dalam pertemuan itu pembahasan mencakup kondisi geopolitik dan geoekonomi global hingga upaya mendorong perdagangan, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja.
“Kadin berdasarkan undang-undang adalah induk daripada dunia usaha. Nah, disampaikan juga bahwa Kadin dalam undang-undang adalah mitra strategis pemerintah. Nah, kami tadi bicara apa? Dan tentunya mendengarkan arahan dari Pak Presiden,” kata Anindya saat ditemui di Istana Negara, Jumat (31/7).
Anindya menyebutkan sebanyak 150 perwakilan Kadin menghadiri pertemuan tersebut. Mereka terdiri dari pengurus Kadin di 38 provinsi dan sekitar 30 asosiasi, serta himpunan pengusaha.
Anindya menjelaskan juga Kadin menyampaikan pandangan mengenai perlu diperkuatnya komunikasi antara pemerintah, dunia usaha, hingga pelaku usaha di daerah, di tengah situasi geopolitik dan geoekonomi dunia semakin menantang, mulai dari perang dagang hingga konflik fisik yang berdampak pada rantai pasok global.
Selain itu, Anindya menyebutkan Kadin juga menyampaikan perannya dalam diplomasi ekonomi internasional. Tujuannya memperluas perdagangan dan investasi Indonesia, salah satunya melalui buku dan platform We Buy From Indonesia yang telah disampaikan kepada Presiden.
Dalam pertemuan tersebut, Anindya membeberkan ada pembahasan mengenai ketahanan pangan dan swasembada pangan, perpajakan termasuk pajak rokok, pembangunan infrastruktur seperti bandara, pelabuhan, hingga jembatan, pengembangan Aspal Buton, juga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Anindya menegaskan Kadin tetap optimistis menghadapi tantangan global. Menurutnya, fokus organisasi ke depan adalah meningkatkan perdagangan internasional agar berdampak pada investasi, industrialisasi juga penciptaan lapangan kerja.
“Tapi satu yang kami garis bawahi adalah kita ingin meningkatkan perdagangan. Meningkatkan perdagangan apalagi sudah ada Free Trade Agreement Comprehensive Economic Partnership Agreement yang ditangani bagaimana kita bisa menikmati lebih banyak lagi,” jelasnya.
Anindya juga mengatakan pembahasan dengan Prabowo turut menyinggung strategi menjaga kinerja ekspor Indonesia di tengah perubahan rantai pasok global.
Dia menjelaskan, nilai ekspor Indonesia saat ini mencapai sekitar USD 300 miliar, sekitar USD 60 miliar berasal dari komoditas utama seperti batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), baja, hingga nikel. Sementara itu, sekitar USD 250 miliar sisanya dinilai masih memiliki potensi untuk terus dikembangkan agar pelaku usaha lebih siap menghadapi perubahan rantai pasok global.
Kadin juga memanfaatkan kebijakan politik luar negeri bebas aktif yang dijalankan Presiden Prabowo untuk memperluas kerja sama ekonomi. Dia melihat Indonesia memiliki hubungan yang baik dengan dua kekuatan ekonomi dunia, yaitu Amerika Serikat dan China.
Anindya memastikan Kadin aktif memanfaatkan berbagai forum internasional seperti ASEAN, G20, BRICS, dan APEC untuk memperluas perdagangan Indonesia.
“Nah ini bukan hanya untuk ikut suatu forum tapi bagaimana kita bisa berdagang lebih. Karena kalau kita bisa berdagang lebih tentu efeknya kepada investasi efeknya kepada industrialisasi yang ujungnya lapangan kerja. Dan memang itulah esensi daripada Kadin,” tutur Anindya.
